Polisi Yang Merakyat Serta Rakyat Yang Jadi Polisi PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Jumat, 26 Juni 2015 10:12

Polisi Yang Merakyat Serta Rakyat  Yang Jadi Polisi
==========================================
Penulis : Kompol Imam Yulisdianto

Pasis Sespimmen Polri Dikreg ke -55/2015

Polri dengan segala keterbatasan utamanya dari sisi SDM tetap menjadi garda terdepan untuk menghadapi berbagai persoalan di masyarakat. Apakah Polri yang terbatas jumlah personilnya sanggup menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah hukumnya masing-masing?

Pasti bisa, Karena Polri tidak bekerja sendiri tetapi membutuhkan kerjasama dari pihak masyarakat untuk membantu tugas Kepolisian.
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menjalankan salah satu fungsi pemerintahan negara  dibidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat . Oleh karena itu sebagai pelayan publik dalam melaksanaan tugas pokok dan fungsi sehari-hari Polri lebih banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dengan demikian, baik atau buruknya citra Polri sangat tergantung dengan kemampuan/kinerjanya dalam memenuhi harapan serta memuaskan masyarakat.

Setiap manusia memiliki harapan, apakah itu bagi dirinya sendiri maupun harapan sebagai anggota masyarakat kepada pihak lain. Dalam konteks kinerja Polri, harapan masyarakat sudah seharusnya direspons sebagai input untuk dikelola agar menghasilkan output berupa capaian perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan publik Polri.

Seperti apa kira-kira bentuk harapan masyarakat terhadap pelayanan institusi Polri? Ternyata sebagian besar dari mereka harapannya sangat sederhana, Polri mampu menjamin kepastian, memberikan rasa aman dan nyaman serta keterbukaan informasi dalam proses pelayanan publiknya.

Tantangan soal jumlah sumber daya manusia Polri yang paling mendasar adalah soal rasio perbandingan jumlah penduduk Indonesia dan jumlah polisi. Rasio perbandingan ini sangat menentukan kecepatan pelayanan. Besar kecilnya rasio polisi menentukan efektivitas pelayanan kepolisian kepada masyarakat. Semakin kecil rasio polisi semakin efektif pelayanan kepada masyarakat.

Sebaliknya semakin besar rasio polisi akan menyebabkan pengaduan masyarakat tidak tertangani dengan baik, penyidikan berlarut-larut, intensitas patroli rendah, atau kehadiran polisi di tempat kejadian perkara (quick response) tidak tepat waktu. Menurut PBB Rasio Polisi yang ideal adalah 1 : 400, adapun rasio polisi di Indonesia masih berkisar 1: 613 (data per Januari 2012).

Terkait hal itu, membangun masyarakat yang berkarakter ideal Polisi merupakan salah satu cara untuk menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan terdekatnya. Polri pun mengedepankan Satuan Fungsi Binmas di Polres masing-masing secara umum dan di Polsek-polsek secara khusus. Sekarang pun banyak kegiatan-kegiatan yang mengedepankan Satuan Fungsi Binmas. Contohnya saja, sosialisasi, mengaktifkan kembali Siskamling, Polmas dan lain-lain.

Satuan Fungsi Binmas senantiasa berkoordinasi dan bekerjasama dengan elemen masyarakat untuk membantu memonitor situasi dan kondisi di wilayahnya masing-masing. Hal ini penting dilakukan karena dari Polri sendiri sedikit terkendala karena kurangnya personil dan besarnya wilayah yang harus dimonitor. Maka dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk membantu memonitor keadaan di lingkungan sekitarnya.

Apakah dari masyarakat sendiri mau bekerjasama dengan Kepolisian?  Memang menjaga keamanan dan ketertiban adalah tugas Polisi, namun alangkah baiknya apabila dari masyarakat sendiri mampu menjadi Polisi bagi dirinya sendiri. Contohnya saja, masih banyak masyarakat yang merasa di lingkungannya sudah aman. Sepeda motor yang mereka parkir di teras rumah tidak pernah dikunci stang ataupun kunci masih menempel di lubang kunci motor. Apes, ternyata keesokan harinya motor tersebut sudah tidak ada di teras rumah mereka alias hilang atau dicuri. Apakah hilangnya atau dicurinya sepeda motor itu merupakan kesalahan Polisi?

Disisi lain  Satuan Fungsi Binmas selalu gencar melakukan sosialisasi dan pengumuman di koran-koran, spanduk agar selalu mengunci stang sepeda motor atau menggunakan kunci ganda untuk mencegah keinginan para penjahat mencuri motor. Tapi ternyata masih banyak masyarakat yang menyepelekan atau meremehkan keamanan barang dan diri mereka sendiri. Polisi tidak mungkin mendatangi rumah-rumah warga satu persatu untuk mengecek kendaraan atau rumah mereka dalam keadaaan terkunci atau tidak.

Inilah mengapa diperlukan kerjasama dari masyarakat untuk membantu tugas kepolisian dengan menjadi polisi bagi dirinya sendiri. Beberapa mitra Polri yang aktif bekerjasama dengan Polri  melaporkan situasi dan kondisi di wilayahnya masing-masing antara lain FKPM, Polmas, Siskamling. Mereka merupakan kumpulan warga yang peduli dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungannya.

Bukan hanya tugas Fungsi Binmas tetapi juga seluruh anggota Polri untuk membangun kepercayaan dan meningkatkan kesadaran hukum masyarakatnya. Sekarang sudah ada Babinkamtibmas yang sudah ditempatkan 1 (satu) orang di setiap kelurahan. Babinkamtibmas ini selalu melakukan tugasnya dengan berada di tengah-tengah masyarakat. Memberikan berbagai informasi, arahan-arahan, cara-cara menyelesaikan permasalahan di lingkungan sekitarnya. Babinkamtibmas juga berperan penting dalam membangun masyarakat yang berkarakter ideal polisi.

Benar, memang Polri tidak mungkin bekerja sendirian tanpa bantuan dari masyarakat. Bagaimanapun juga masyarakat harus bisa menjadi Polisi bagi dirinya masing-masing. Dengan begitu mereka punya kesadaran hukum yang tinggi sehingga bisa mengurangi aksi tindak pidana. (*)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com