Kekerasan Terhadap Anak, Bisakah Dihapus? PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Senin, 10 Agustus 2015 08:18

Kekerasan Terhadap Anak, Bisakah Dihapus?

Penulis :
Kompol Nasrun Pasaribu
Pasis Sespimmen Polri Dikreg ke 55/2015

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, atau pengabaian terhadap anak.  Kekerasan terhadap anak memiliki dampak yang luar biasa.

Ada anak yang menjadi negatif dan agresif serta mudah frustasi. Ada yang menjadi sangat pasif dan apatis, ada yang tidak mempunyai kepibadian sendiri. Kemudian  ada pula yang sulit menjalin relasi dengan individu lain dan ada juga  yang timbul rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri.  Selain itu,  bisa terjadi adanya kerusakan fisik, seperti perkembangan tubuh kurang normal ,juga rusaknya sistem syaraf. Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari.

Kekerasan dalam  ranah pendidikan semakin memprihatinkan. Masih belum ada cara yang benar-benar efektif dalam menangani dan mencegah kasus-kasus tersebut. Kita dapat dengan mudah menemukan berbagai berita mengenai kekerasan yang terjadi di dalam pendidikan Indonesia. Berbagai kalangan, terutama para orang tua, semakin was-was akan ancaman dan kurangnya jaminan keamanan terhadap anak-anak mereka.

Alhasil, bukan ilmu yang didapat, tapi trauma yang mendalam bagi siswa yang menjadi korban, orang tua korban, termasuk siapa pun yang membaca dan mendengar berita-berita yang beredar mengenai korban-korban kekerasan tersebut.Ironisnya, para pelaku kekerasan tersebut adalah orang-orang yang harusnya bisa ikut menjaga dan melindungi para korban; seperti guru, penjaga sekolah, sampai teman seangkatan, atau teman sekelas. Beberapa  berita menghebohkan, seperti kasus JIS,, menjadi tamparan keras bagi para pendidik, orang tua, pihak sekolah, dan pemerintah. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Apa saja yang bisa dilakukan untuk meminimalisir hal tersebut.  Upaya yang bisa dilakukan diantaranya  adalah pemasangan kamera CCTV.   Seyogyanya pihak sekolah perlu memasang CCTV di seluruh sekolah untuk memantau kegiatan para siswa. Ini bisa jadi sebuah solusi yang cukup mahal dan membutuhkan dana lebih, selain untuk pemasangan, pihak sekolah juga membutuhkan orang yang bisa memantau CCTV tersebut. Satpam dan guru dapat melakukan pemantauan secara bergantian. Dengan demikian, pihak sekolah dapat memantau beberapa lokasi pada saat yang bersamaan.

Upaya  lainnya yakni memberikan penekanan kepada pendidikan budi pekerti. Dalam hal ini pendidikan budi pekerti adalah salah satu solusi untuk mencegah krisis moral yang melanda di kalangan generasi penerus. Seperti yang kita ketahui, pendidikan budi pekerti masih belum merata dan masih belum benar-benar menjadi mata pelajaran wajib di semua sekolah walau telah dicanangkan sejak tahun 1994.

Adapun, secara psikologis, didikan dan perilaku keluarga, peran lembaga penyedia pendidikan, sampai tontonan televisi dapat mempengaruhi sikap, pola pikir, dan tindakan siswa.
Langkah lainnya yakni  terkait pola didikan dan perilaku keluarga. Dari posisi pihak keluarga, pola asuh yang berlebihan seperti terlalu memanjakan dan hanya memenuhi kebutuhan anak secara materi, dapat memicu sifat suka menganiaya atau melakukan kekerasan. Kita perlu memperhatikan anak kita, namun bukan berarti memanjakannya secara berlebihan. Atau kebiasaan orang tua yang suka bertengkar di depan anak-anaknya dapat memicu anak berperilaku atau bersikap kasar. Karena anak yang menyaksikan pertengkaran tersebut akan beranggapan bahwa kekerasan adalah hal yang wajar.

Selain itu, cara yang bisa dipakai yakni memaksimalkan peran sekolah. Dimana sekolah harus memiliki fungsi kontrol sosial, di mana sekolah memiliki assessment (penilaian) terhadap perilaku anak. Sekolah juga harus menggagas aktivitas-aktivitas internal sekolah yang bersifat positif, memfasilitasi aktivitas orang tua siswa dan siswa minimal setahun sekali seperti yang diterapkan oleh sekolah-sekolah di Jepang. Sekolah juga bisa membentuk petugas “breaktime watch” dari kalangan pengurus sekolah yang bertugas untuk berkeliling dan memantau kegiatan siswa.

Upaya  selanjutnya  yakni bila perlu diberikan pembekalan ilmu beladiri. Pembekalan ilmu bela diri pun dapat menjadi salah satu solusi. Selain mengajarkan kepada anak mengenai displin dan membentuk mental juga jasmani yang kuat, bela diri juga dapat digunakan untuk membela diri sendiri dari ancaman-ancaman yang ada. Namun, tetap harus diberikan pengarahan bahwa ilmu bela diri dipelajari bukan untuk melakukan kekerasan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah apa yang ditonton oleh anak.  Pasalnya  tayangan televisi yang mengumbar kekerasan dan tidak mendidik hanya demi mengejar rating serta pemasukan iklan, turut serta dalam pembentukan mental dan sikap anak. Karena anak seringkali mencontoh apa yang mereka dengar dan lihat, sehingga televisi sebagai salah satu media hiburan selayaknya lebih memperhatikan dan memilah tayangan serta jam tayang. Walau telah diberi rating dalam setiap tayangan, namun pada jam-jam sibuk, tidak semua orang tua dapat menemani anaknya dalam menonton acara/tayangan televisi. Orang tua pun harus mau peduli, mencari tahu dan turut mengawasi tayangan yang ditonton oleh anak-anaknya.

Untuk itu sudah saatnya, kita saling bergandengan tangan dan bersama-sama menjalankan fungsi kita sebagaimana mestinya untuk mencegah kekerasan dalam ranah pendidikan, bukan hanya saling menyalahkan dan diam dalam keprihatinan. Kesuksesan sebuah rencana bisa terwujud, jika semua pihak sadar terhadap perannya dan mau peduli, serta bertindak. Moral harus mulai ditanam dari diri kita sendiri dan diajarkan kepada anak-anak kita. Pendidikan budi pekerti hanyalah sebuah mediasi, namun penerapannya perlu sebuah kesadaran dan kemauan.(*)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com