Jiwa Korsa, Jangan Sampai Salah Mengartikan PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Sabtu, 12 September 2015 10:57

Jiwa Korsa, Jangan Sampai Salah Mengartikan  

Penulis : Kompol Leonard Sinambela
Pasis Sespimmen Polri Dikreg ke-55/2015
=======================================================================


Rapl Linton dalam bukunya (THE STUDY OF MAN) mengatakan bahwa L’ESPRIT DE CORPS adalah THE DEVELOPMENT OF CONSIOUNESS, AFEELING OF UNITY. Jiwa korsa adalah semangat keakraban dalam korps atau corps geest. Jiwa korsa adalah kesadaran korps, perasaan kesatuan, perasaan kekitaan, suatu kecintaan terhadap perhimpunan atau organisasi. Tetapi kebanggaan itu secara wajar, tidak berlebihan, tidak membabi buta.

Jiwa korsa yang kuat tidak mudah padam selama didalam korps. Di dalam jiwa korsa terkandung di dalamnya loyalitas, merasa ikut memiliki, merasa bertanggung jawab, ingin mengikuti pasang surut serta perkembangan korps-nya. Seorang yang memiliki jiwa korsa tinggi pasti penuh inisiatif, tetapi tahu akan kedudukan, wewenang dan tugas-tugasnya.

Adapun jiwa korsa yang murni dan sejati akan menimbulkan sikap terbuka menerima saran dan kritik, tidak membela kesalahan tetapi justru mengusahakan sesuatu pada proporsi yang sebenarnya. Mau menegur atau memperbaiki sesama warga korps yang berbuat tidak baik dan bukan menutupi kesalahannya, dan berani mawas diri. Adapun mengenai loyalitas perlu diartikan lebih luas disamping kepada korps, loyalitas mengandung pengertian pula bahwa apa yang diperbuat harus memberikan manfaat atau kebaikan dimanapun ia berada.

Sebenarnya jiwa korsa bukan hanya penting dikalangan militer saja, tetapi juga diorganisasi manapun. Jiwa korsa yang baik akan menciptakan disiplin ketertiban, moril dan motifasi, tentu saja juga akan meningkatkan ketrampilan profesinya, karena merasa malu apabila tidak mampu. Seorang anggota korps yang benar-benar memiliki jiwa korsa yang tinggi akan menunjukan penampilan yang gagah (tidak loyo dan merendahkan semangat), berani dan segala tingkah lakunya selalu terpuji, karena jiwa korsanya itu telah jadi stimulan untuk menjaga nama baik korpsnya.

Seperti apakah jiwa korsa timbul ?  Jiwa korsa dapat muncul dari dalam maupun dari luar kesatuan sendiri. Namun prosesnya perlu ditumbuhkan melalui pendidikan, kegiatan latihan, penyuluhan dan efektifnya komunikasi. Tidak bisa muncul dengan sendirinya serta tiba-tiba. Pengembangan kesadaran korps pada dasarnya akan menimbulkan kesatuan psikologis dan emosional yang memungkinkan timbulnya reaksi emosional yang wajar dan membuat individu bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan kolektif dan melakukan pekerjaan-pekerjaan tanpa diawasi.

Fenomena bentrokan dan konflik antara oknum TNI dan oknum Polri yang terjadi berulang kali di beberapa waktu dapat dikatakan hal itu karena tidak adanya penyelesaian yang serius dari pimpinan kedua belah pihak. Terkesan ada semacam legitimasi sehingga hal itu dipahami oleh personel di lapangan sebagai bentuk pembiaran.

Mestinya  TNI dan Polri, harus bisa membatasi semangat jiwa korsa atau Esprit de Corps yang terkadang disalahgunakan oleh anggotanya. Di sisi lain  komando juga tidak perlu ikut campur  seolah menyembunyikan kesalahan anggota yang cuma dilakukan oleh satu dua orang demi jiwa korsa. Bila memang mereka hanya menjadi benalu dari institusi, maka harus diberikan sanksi yang tegas dan berat. Bila perlu di pecat dari kesatuan. Itu harus diberlakukan dan diterapkan di Polri dan TNI.

Terulangnya kejadian serupa tersebut disebabkan  tidak adanya hukuman berat yang diberikan pada pelaku, baik dari TNI maupun Polri. Kondisi itu  yang kemudian menjadi semacam legitimasi non struktural atau non komando bagi para anggota di lapangan untuk kembali melakukan tindakan yang memalukan bagi institusi. Yang harus dilakukan selanjutnya adalah bentuk konkrit sanksi yang ditunjukkan oleh pucuk pimpinan. Misalnya ada tidaknya Panglima TNI atau Kapolri yang  memecat anggota yang telah berbuat mencoreng institusinya. Jadi dengan begitu ada bukti punishment yang luar biasa.

Kalau para pelaku atau oknum ini  tidak diberi sanksi, dikeluarkan atau dipecat maka tidak akan ada efek jera. Pasalnya tindakan yang dilakukan oknum-oknum tersebut dapat dikategorikan sebagai pelanggaran berat. Karena membuat masyarakat resah dan menjadi isu nasional. Bahkan kejadian tersebut juga menjadi pemberitaan di media-media asing.

Di sisi lain jiwa korsa sangatlah penting dan perlu dipelihara, namun harus secara wajar, tidak berlebihan, dan tidak dalam arti sempit. Dalam jiwa korsa harus diwaspadai bibit-bibit chauvinisme yang merupakan kecintaan atau solidaritas yang tidak proporsional. Pedoman yang perlu dimainkan atara lain “BERIKAN SEMUA YANG BISA KAU BERIKAN “ dan bukan “ DAPATKAN SEMUA YANG BISA KAU DAPAT “
Masih hangat dalam ingatan kita terkait peristiwa penyerangan Lapas Klas II Cebongan Jogjakarta. Selain itu peristiwa penyerangan dan pembakaran Mapolres dan Mapolsek Polres Ogan Komering Ulu (OKU) di  Kota Baturaja, Kabupaten, Sumatera Selatan.

Hal ini menjadi bukti bahwa  hubungan TNI-Polri di beberapa wilayah belum benar-benar harmonis. Dua kubu ini mudah terpecah dan berseteru bahkan karena masalah sepele.  Kesan balas dendam antara TNI-Polri bahkan  terlihat dengan mata telanjang oleh publik meski ditutup-tutupi oleh para petinggi-petingginya. Gesekan di lapangan antara anggota TNI dan Polri tersebut sering terjadi dipicu hasrat rivalitas yang tak berkesudahan. Kedua pihak merasa paling kuat dengan kesatuannya.

Untuk itu dibutuhkan sarana komunikasi yang bisa menghilangkan sekat antara dua institusi atau kesatuan. Diupayakan untuk  saling mengenal satu sama lain. Ini menjadi tanggung jawab pucuk pimpinan masing-masing dan menjadi tanggung jawab komandan kesatuannya hingga tingkat Kodam dan Polda. Proses merekatkan komunikasi ini bisa dilaksanakan, antara lain melalui kegiatan olahraga, silaturahim, latihan bersama, dan lain-lain. (*)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com