Kenapa Anak Kecanduan Gadget, Bagaimana Cara Mengatasinya? PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Minggu, 23 Oktober 2016 18:59

Surabayakita.com – Kurangnya perhatian kedua orang tua dan penghargaan yang diberikan kepada anak ternyata bisa membuat anak mencari keasyikan lain, bermain gadget dan menjadi kecanduan. Bagaimana bisa ?

Hal ini disampaikan, pakar neurosains, dr. Amir Zuhdi, dalam acara seminar Parenting "Kecanduan Gadget, Anakku Susah Diatur" di Ruang Kuliah Propadeus, Fakultas Kedokteran Umum Unair, Minggu (23/10/2016).

Dua kata kunci yang diberikan dr. Amir Zuhdi adalah perhatian dan penghargaan. Dua hal inilah yang membuat kenapa seorang anak bisa kecanduan gadget.

Ketika lingkungan keluarga tidak memberikan dua hal ini, maka anak secara alami akan mencari perhatian dan penghargaan di luar. Dan hal ini ternyata bisa didapatkan melalui gadget, salah satunya melalui permainan.

"Tapi tidak semua permainan di gadget membahayakan khan Dok?," tanya salah seorang peserta. Acara ini memang terbuka dan dilakukan tanya jawab dengan peserta seminar

"Saya sepakat. Memang tidak semua permainan tidak bermanfaat. Ada juga yang bermanfaat. Memilih permainan inilah yang seharusnya jadi peran orang tua," Tegas dr. Amir Zuhdi.

Namun menurut dr Amir Zuhdi,  ada syarat lain yang harus dipenuhi. Terutama untuk anak di bawah usia 7 tahun pembelajaran emosinya harus selesai terlebih dahulu. Tidak diberi kebebasan memilih permainan.

Ternyata menurut ilmu neurosains, saat anak berusia di bawah 7 tahun, otak emosi paling banyak berkembang di usia ini, bukan otak memori. Maka saran dr. Amir, terutama bagi anak di bawah 7 tahun, sebaiknya bukan kemampuan baca tulis hitung dulu tetapi kemampuan mengenali emosi, marah, senang, sedih, kecewa, khawatir, takut dan lain sebagaianya.

Lalu bagaimana dengan anak yang sudah kecanduan gadget? Bagaimana cara memperbaikinya? Karena gadget memberikan perhatian dan penghargaan, maka sebaiknya ini yang mulai diberikan oleh orang tua.

"Ketika orang tua mulai memberikan perhatian dan penghargaan, sedikit demi sedikit jam menggunakan gadget bisa dikurangi dan dialihkan dengan aktivitas lain yang menjadi hobi," ujarnya.

Selain itu tidak kalah penting adalah contoh. Bila anak mulai dibatasi menggunakan gadget, tapi orang tuanya malah selalu membawa gadget, pesannya jadi tidak nyambung.

Bagaimana cara memulainya? Bisa dilakukan dengan membangun komunikasi yang baik. Menurut dr.Amir Zuhdi ada tiga aktivitas yang bisa dilakukan untuk membangun komunikasi yang baik.

Pertama, ketika berkomunikasi, keep eye contact, selalu usahakan tatap mata anak. Dengan begini ia akan selalu merasa jadi pusat perhatian. Ia adalah sosok yang penting bagi orang tuanya.

Kedua, senyum. Tampilkan sosok yang selalu memberikan rasa aman. Meskipun anak membuat orang tua marah, ketika berhadapan, usahakan tampil dengan senyum. Sehingga ia bisa merasakan kedekatan.

"Dan terakhir adalah dengarkanlah mereka maka mereka akan mendengarkan anda. Lagi-lagi bangun kedekatan dengan mereka, perhatikan mereka. Ketika anda sudah dekat dengan mereka, maka mereka pasti tidak sulit diatur," katanya.

Kedekatan orang tua dan anak, ini yang ternyata hilang. Anak tidak lagi dekat dengan orang tuanya, karena tidak ada lagi perhatian dan penghargaan. Gadget, mampu memberikan keduanya. Maka tidak heran bila anak tergantung dengannya.

Sementara  Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Jatim yang menggelar seminar ini berharap para orang tua yang datang bisa memecahkan masalah kecanduan gadget pada anak-anak mereka. Sehingga semakin banyak keluarga menemukan keharmonisan dan menjadikan anak-anak mereka sebagai generasi penerus bangsa.

"Kami masih ingin memberikan manfaat bagi warga Surabaya melalui seminar ini dan program-program lain," Jelas Suripta, Kepala Perwakilan IZI Jawa Timur.(SK1)

 

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com