15 KK Eks Bangli Tambangboyo 'Boyongan' Ke Rusun Sememi PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Minggu, 16 April 2017 19:04

Surabayakita.com - Sebanyak 15 KK yang sebelumnya tinggal di bangunan liar (bangli) Jl. Tambangboyo telah 'boyongan' atau pindahan ke rumah susun (rusun) sememi. Saat 'boyongan', mereka diantar ramai ramai SKPD ke rusun menggunakan mobil truk milik Pemkot Surabaya.


'Boyongan' berlangsung dua hari. Hari pertama, Minggu (9/4/2017), menggunakan tiga truk milik Satpol PP, diikuti tiga KK. Sedangkan berikutnya, Sabtu (15/4/2017) pindahan diikuti sebanyak 12 KK.

Menurut Lurah Pacarkeling Kecamatan Tambaksari, Sri Sukarijati, sebenarnya dari 35 orang warga yang tinggal di bantaran sungai Kedungsroko Tegal ini terdiri dari 16 KK. "Tapi yang bersedia pindah ke rusun hanya 15 KK, yang 1 KK tidak mau," katanya.

Turut serta mengantar pindahan warga ini antara lain staf Bagian Pemerintahan, Kecamatan Tambaksari dan kelurahan Pacarkeling. Selain itu juga dibantu petugas dari Linmas dan juga Satpol PP.

Warga yang ikut pindahan ini sebelumnya tinggal di bangli semi permanen yang bangunannya dominan dari bambu dan kayu. Banguan tersebut berdiri di pinggir jalan dan sebagian lainnya di atas saluran.

Kondisi ini selain membahayakan warga itu sendiri, juga terkait upaya Pemkot Surabaya untuk mengembalikan fungsi jalan tersebut agar tidak menganggu kelancaran lalu lintas. Berdiri di bibir saluran juga dianggap rawan membuat saluran menjadi kotor.

Sementara Ny. Aripah ketika dihubungi Surabayakita.com mengatakan cukup senang dipindah ke rusun Sememi - Surabaya Barat, meski perbulan harus membayar retribusi rusun Rp 77.000. Alasannya di tempat yang baru ini ibu tiga anak ini merasa lebih bersih dan nyaman.

"Alhamdulillah, di sini lebih nyaman dan bersih. Tapi di sini saya belum bisa bekerja seperti semula pak. Saya masih belum punya modal untuk memulai usaha lagi," kata wanita asal Jombang yang sebelumnya berjualan kue ini.

Untuk retribusi, Pemkot Surabaya menarik para penghuni rusun yang baru pindah ini sebesar empat bulan pembayaran di muka. "Saya sudah bayar empat bulan langsung di depan karena diminta seperti itu. Itu belum termasuk uang air dan listrik. Coba nanti dilihat lagi selanjutnya bagaimana," katanya.

Sedangkan untuk anak anak yang masih sekolah seperti di SDN Pacarkeling, Ny. Aripah diminta untuk menjemput anak anaknya berangkat dan pulang sekolah Sememi - Pacarkeling  setiap hari. Baru kemudian setelah kenaikan kelas, mereka akan dipindah ke sekolah di dekat rusun Sememi.(SK1)






 

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com