Ternyata Sampah Bisa Hasilkan Uang, Pedagang PIOS Kelola Sampah Mandiri PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Rabu, 26 April 2017 17:39

Surabayakita.com - Pasar Induk Osowilangun (PIOS) dipilih Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Pemerintah Kota Surabaya menjadi salah satu pasar percontohan yang mampu mengelola sampah secara mandiri. Dua pasar lainnya yang dipilih adalah Pasar Wonokromo dan Pasar Kapaskrampung.

Sampah yang dihasilkan dari PIOS diolah sedemikian rupa menggunakan mesin pencacah sampah sehingga mudah diurai. Mesin pencacah sampah ini merupakan bantuan DKRTH Kota Surabaya dengan tujuan sampah bisa diolah secara mandiri oleh pasar.

Kabar ini diungkap Kepala Subbagian Umum dan Kepegawaian Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Pemerintah Kota Surabaya Wisnu Wibowo, Rabu (26/4/2017) pagi. Sebenarnya untuk program ini DKRTH Kota Surabaya menggandeng 15 pasar se Surabaya.Namun yang menjadi percontohan hanya tiga pasar.

“Memang betul, PIOS menjadi salah satu percontohan untuk pengolahan sampah mandiri, termasuk juga Pasar Wonokromo dan Pasar Kapas Krampung. Makanya kami sangat mengapresiasi pengelolaan sampah di PIOS,” kata Wisnu dalam acara  Sosialisasi peraturan Wali Kota Surabaya nomor 10 tahun 2017 tentang tata cara pengenaan sanksi administratif pelanggaran peraturan daerah Kota Surabaya nomor 5 tahun 2014 tentang pengelolaan sampah dan kebersihan di Kota Surabaya yang digelar di Gedung Wanita Kalibokor Surabaya.

Wisnu mengatakan ke depan DKRTH akan mewajibkan pengelolaan sampah kawasan secara mandiri. Baik itu kawasan pemukiman, kawasan industri dan kawasan komersial lainnya. Di kawasan itu akan dilakukan pengolahan sampah secara mandiri, minimal pemilahan sampah.

Dengan memilah sampah sebelum sampah diangkut ke tempat penampungan akan membantu DKRTH untuk mengelola sampah yang tiap hari berton ton dikirim ke TPA Benowo. Dengan menunjuk tiga pasar percontohan terasuk PIOS, akan memudahkan pengelolaan sampah ke depan.

“Nantinya kami harapkan pengembangan perumahan dan mall memiliki pengelohan sampah masing-masing. Dengan pengolahan sampah mandiri akan mengurangi beban lokasi TPA sampah,” kata Wisnu.

Di PIOS sendiri para pedagang sudah mulai melakukan pengolahan sampah secara mandiri. Buktinya sudah ada beberapa pedagang yang dengan kesadaranya memiliki bank sampah sendiri.

Ternyata mengolah sampah di bank sampah ini membawa keuntungan bagi para pedagang. Diantaranya menghasilkan sejumlah rupiah yang digunakan para pedagang untuk membayar retribusi stan. Ternyata kalau serius mau melakukan, sampah juga bisa menghasilkan uang.

“Yang paling penting di sini adalah para pedagang itu bisa melihat sampah bukan hanya untuk sekadar dibuang, tapi juga bisa diambil manfaatnya,” kata dia.

Wisnu mengaku sangat mengapresiasi pengelolaan sampah yang dilakukan oleh PIOS. Bahkan, ia berharap pasar-pasar lainnya bisa melihat kemudian meniru pengelolahan sampah yang dilakukan oleh PIOS.

Sebelumnya, General Manager PIOS, Rahayu Trissila, menjelaskan saat ini sampah organik yang dihasilkan dari 70 pedagang di PIOS sebanyak 6 Ton perhari dari Blok A sampai H. Sampah organik itu pun dicacah, sehingga mereka bisa menekan sampah yang dibuang ke Pembuangan Akhir Sampah di Benowo.

"Perharinya sekitar 2 ton sampah bisa diolah, dengan dipisahkan antara endapan dan air lindihnya yang fungsinya untuk campuran pupuk oleh Dinas Pertamanan dan Terbuka Hijau," ujarnya.

Setelah dicacah dengen mesin pencacah sampah, langsung dipilah endapannya, sedangkan air lindih dari sampah langsung masuk ke tabung air yang telah kita sediakan. Setelah terpilah antara endapan dan air lindih, petugas dari DKRTH Kota Surabaya mengambilnya untuk dijadikan salah satu bahan pupuk organik.

Dengan ini, pihak PIOS mengaku bisa menghemat biaya pembuangan sampah. Sisanya 4 ton dibuang ke TPA Benowo. Jika perbulan membutuhkan Rp 3,6 juta, setelah melalukan pengolahan sampah organik sebanyak 2 ton bisa melalukan penghematan.(SK1)

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com