Komisi D Akan Hearingkan Soal Larangan Buka Karaoke Keluarga Selama Ramadhan PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Selasa, 16 Mei 2017 16:04

Surabayakita.com - Komisi D DPRD Surabaya saat ini tengah mempertimbangkan aspirasi kalangan pengusaha Rumah Hiburan Umum (RHU) agar selama Ramadhan karaoke keluarga tetap diperbolehkan buka untuk umum. Selama ini telah diatur dalam Perda, semua RHU harus tutup selama sebulan penuh pada bulan Ramadhan.


RHU minta  tetap operasional dengan alasan agar para karyawannya bisa bekerja dan mendapat penghasilan. Sejak beberapa tahun ini setelah ada perda tersebut, rumah karaoke keluarga dilarang buka selama Ramadhan.

Masalah ini diakui Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Agustin Poliana, menjadi dilema bagi komisinya untuk bersikap. Sebab masalah ini sudah diatur dalam perda. Sedangkan kalangan RHU mengeluh karena tidak ada penghasilan selama tutup.

"Terus terang ini dilema.  Aturan Perda melarang semua jenis hiburan karaoke dilarang buka selama Ramadhan. Sementera di sisi lain ada keluhan pengusaha yang punya tanggung jawab terhadap karyawannya agar tetap bisa bekerja," kata Agustin Poliana.

Politisi PDIP ini mengaku dilema karena meski libur sebulan, pemilik tempat karaoke keluarga itu tetap berkewajiban menggaji dan memberi tunjangan hari raya (THR) bagi karyawannya.

Praktis kalau libur sebulan, pengusaha karaoke keluarga hanya bisa buka 11 bulan selama setahun. Sementara tetap memiliki kewajiban membayar 13 bulan gaji. Selama ini pengusaha  harus memiliki strategi untuk tetap bisa menggaji karyawannya selama 13 bulan gaji meski libur sebulan.

Karenanya Agustin Poliana akan mempertimbangkan masalah ini segera. Komisi D akan melakukan hearing dengan Dinas Pariwisata Pemkot Surabaya agar karaoke keluarga bisa buka kembali selama Ramadhan meskipun hanya beberapa jam saja.

Karena sudah ada perda yang melarang rumah karaoke keluarga tutup selama Ramadhan, Agustin Poliana akan meminta agar walikota turun tangan dengan menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwali) Surabaya atau kebijakan lain. Tujuannya  agar karaoke keluarga punya landasan hukum untuk buka kembali.

"Saya melihat dari sisi positifnya saja. Kalau melihat RHU tidak hanya melihat plus-plusnya saja (sisi negatifnya), tapi kinerja dari para karyawan agar ada pendapatan selama Ramadhan. Kalau bisa bukanya setelah sholat tarawih atau sekitar pukul 21.00 dan tutup sebelum sahur sekitar pukul 02.00," ujarnya.

Namun demikian, lanjut dia, ini masih sebatas wacana dan belum menjadi keputusan. Tentunya perlu didiskusikan lagi dengan matang perlu dan tidaknya karaoke keluarga dibuka kembali, agar nantinya tidak menjadi persoalan dikemudian hari.

Rencanananya masalah ini akan dibahas dengan Dinas Pariwisata agar segera ada solusi. Paling tidak sebelum Ramadhan sudah ada jawaban boleh tidaknya rumah karaoke keluarga tetap buka dengan pembatasan waktu operasional.

Sementara itu larangan buka rumah karaoke keluarga, memang sudah diterapkan sudah lama. Rumah karaoke keluarga dilarang buka selama Ramadhan karena masuk dalam bagian RHU.

Saat pembahasan perda larangan itu Pansus DPRD Surabaya dan Pemkot Surabaya sepakat ikut melarang rumah karaoke keluarga dengan alasan agar masyarakat bisa khusu' menjalankan ibadah pada malam hari. (SK1)

 

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com