Red Hat OpenShift Container Platform Dukung Perusahaan Enterprise ASEAN Percepat Inisiatif Transformasi Digital PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Senin, 05 Juni 2017 23:15

Surabayakita.com,Jakarta - Red Hat, Inc. (NYSE: RHT), penyedia solusi open source terkemuka di dunia, mengumumkan bahwa perusahaan-perusahaan enterprise di kawasan ASEAN telah mengadopsi Red Hat OpenShift Container Platform untuk memungkinkan pengiriman aplikasi yang lebih cepat.

Mulai dari industri telekomunikasi dan layanan keuangan, perusahaan di ASEAN menerapkan Red Hat OpenShift Container Platform guna memungkinkan pengembang mereka untuk lebih cepat mengembangkan, melakukan hosting, serta meningkatkan atau menurunkan skala aplikasi pada lingkungan cloud.

Vice President and General Manager, ASEAN, Red Hat, Damien Wong, mengatakan, inovasi menentukan pemimpin pasar masa kini. Perusahaan-perusahaan di ASEAN semakin menyadari manfaat yang dapat dihadirkan tool open source dalam memberikan inovasi yang dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan pelanggan dan tetap unggul dalam persaingan.

”Dalam hal aplikasi, jalan menuju inovasi dapat ditemukan di platform-platform aplikasi container dan DevOps untuk membantu mempercepat pengiriman aplikasi di lingkungan cloud hybrid. Red Hat OpenShift Container Platform dapat membawa Anda mencapai hal tersebut, baik on-premise, hosted, atau di cloud publik,”ujarnya.

Red Hat OpenShift Container Platform adalah solusi cloud hybrid pertama dan satu-satunya yang berpusat pada container, yang dibangun dari proyek-proyek hulu container Linux, Kubernetes, Project Atomic dan OpenShift Origin, dan didasarkan pada backbone terpercaya dari platform Linux enterprise terkemuka di dunia, Red Hat Enterprise Linux.

Red Hat OpenShift Container Platform menyediakan platform yang lebih aman dan stabil untuk penyebaran berbasis container tanpa mengorbankan investasi TI saat ini, yang memungkinkan aplikasi-aplikasi tradisional yang bersifat mission-critical untuk dijalankan bersama-sama dengan aplikasi-aplikasi baru cloud-native yang berbasis container.

Di wilayah ASEAN, Red Hat telah melihat momentum yang lebih kuat untuk platform aplikasi container-nya, yang ditunjukkan oleh beberapa penyebaran Red Hat OpenShift Container Platform baru-baru ini di pasar-pasar seperti Singapura dan Indonesia, termasuk: Bank Tabungan Pensiunan Negara (BTPN) (Indonesia); CrimsonLogic (Singapura); Federal International Finance (Indonesia); Rutledge Global (Singapura) dan XL Axiata (Indonesia).

Direktur IT Bank BTPN, Karim Siregar, menjelaskan, inisiatif strategis utama adalah mentransformasi Bank BTPN menjadi bank digital yang berpusat pada pelanggan (customer-centric), yang menempatkan para pelanggan di pusat layanan. Sebagai bagian dari perjalanan ini, perombakan total proses dan infrastruktur TI tengah berlangsung.

”Guna mencapai hal tersebut, kami perlu membangun jalur pengembangan end-to-end baru yang sepenuhnya otomatis dan kuat. Setelah melalui proses pertimbangan yang menyeluruh, Red Hat OpenShift Container Platform merupakan pilihan logis bagi kami karena kemampuan, fitur dan kinerjanya. Selain itu, selama proses implementasi, dukungan Red Hat sangat hebat dan menunjukkan komitmen yang luar biasa,”paparnya.

Sebagai bentuk pengakuan atas inovasinya dalam pengembangan aplikasi cloud-native berbasis container, Red Hat OpenShift Container Platform menerima penghargaan Cloud Technical Breakthrough 2017 pada bulan Februari 2017.

Sebuah studi IDC tahun 2016 tentang The Business Value of Red Hat OpenShift (Nilai Bisnis Red Hat OpenShift), yang disponsori Red Hat, menemukan bahwa OpenShift memungkinkan pelanggan untuk merespons kebutuhan pasar secara lebih cepat dengan menjalankan aplikasi-aplikasi berbasis microservices yang bersifat business-critical dengan proses DevOps.

Keuntungan-keuntungan penerapan Red Hat OpenShift di antaranya adalah 66 persen waktu pengiriman aplikasi yang lebih cepat, USD1,29 juta rata-rata manfaat tahunan per 100 pengembang aplikasi per tahun, dan 531 persen rata-rata ROI selama lima tahun.
Chief Architect, Product Group & Architect Office, CrimsonLogic, Nicholas Wee, melihat produk dan solusi generasi terbaru dari CrimsonLogic dirancang dan dibangun untuk cloud, yang berarti pihaknya perlu memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian secara cepat dengan cara yang terkendali.

”Platform pilihan kami perlu menunjukkan keandalan dalam mendukung penggunaan container Linux sekaligus menyediakan interoperabilitas antara stack teknologi yang berbeda, seperti Microsoft Azure dan Amazon Web Services (AWS). Kami sangat senang karena Red Hat OpenShift Container Platform telah terbukti mampu menangani kebutuhan-kebutuhan ini,”tambahnya.

CEO Rutledge Global, Anne Joseph, menegaskan, Rutledge menyadari perlunya transformasi bisnis lintas industri, termasuk di industri energi. Ia melakukan pendekatan terhadap Red Hat untuk mencari solusi inovatif yang memungkinkan kami untuk membuat arsitektur terdistribusi bagi aplikasi-aplikasinya.

Anne Joseph menegaskan platform yang dibangun pada Red Hat OpenShift Container Platform, telah mengurangi upaya dan biaya tambahan untuk mengembangkan dan memelihara jaringan software dan hardware modular yang dirancang di seputar logika bisnis. Kini, keputusan-keputusan berbasis data dan teknologi yang dibuat di seluruh fungsi bisnis cukup mudah diterapkan dan disesuaikan.

“Kami meyakini bahwa masa depan untuk aplikasi IoT akan didasarkan pada model berlangganan open source dan kami bangga dapat berkolaborasi dengan Red Hat dan menawarkan platform kami ke perusahaan-perusahaan enterprise lain,”pungkasnya. (SK3)

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com