Cak Ratno, 34 Tahun Jadi Juru Foto Simpan Moment Tak Terlupakan PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Kamis, 20 Juli 2017 16:38

Surabayakita.com - Siapa yang tak kenal dengan pria yang pada setiap acara di Pemkot Surabaya selalu menenteng kamera ini? Mungkin hampir semua pegawai negeri sipil (PNS) mengenalnya atau pernah melihatnya. Maklumlah, pria bernama FX Ratno Wiyantono ini memang selalu hadir di acara acara Pemkot Surabaya untuk mengabadikan moment, karena dia merupakan salah satu juru foto di Bagian Humas.

Ratno yang lahir di Surabaya, 7 Juni 1959 ini berpenampilan khas. Dengan tinggi badan sedang dan rambut yang dibiarkan panjang seleher yang sebagian besar sudah memutih membuat tampilan pria ini makin khas. Apalagi pembawaanya selalu murah senyum dan tidak membeda bedakan teman dan kolega membuatnya makin akrab terutama kalangan jurnalis di Pemkot Surabaya.

Namun untuk bisa menemuinya tidak semudah dulu lagi, karena Ratno kini tidak lagi ngantor di Humas Pemkot Surabaya lantaran telah memasuki masa pensiun sejak 1 Juni 2017 lalu. Ditemui Surabayakita.com menjelang pensiun, bapak dua orang anak, Clara Septi A.D dan Benedictus Bagus A.P ini tetap sumringah. Tak ada kesan galau sedikitpun meski saat itu sedang menghadapi pensiun.

Dengan sedikit menerawang, Ratno berkisah awal mengenal dan jatuh cinta dengan dunia fotografi. Suami M.G Sri Wahju Indrajanti ini mengawali karirnya sebagai PNS di Departemen Penerangan (Deppen) tahun 1983, menjadi staf Sub Seksi Pertunjukan Rakyat.

"Saya masuk di Deppen saat itu karena kebetulan saya bisa main musik khususnya drum. Akhirnya saya masuk anggota band di Deppen dan selalu main saat ada acara. Ketrampilan saya main drum terasa sejak duduk di bangku SMP Vincentius Jl. Tidar dan keterusan sampai di SMAN 4," katanya sambil mengepulkan asap rokok kesayangannya ke arah langit langit lobby kantor Humas.

Pada saat suka sukanya ngeband ini, Ratno mendadak mendapat hadiah istimewa dari salah satu adiknya yang bersekolah di Jerman. Hadiah itu bukan peralatan musik semacam drum atau stick nya, tetapi berupa kamera. Tak tanggung tanggung, Ratno muda saat itu mendapat hadiah dua kamera sekaligus, Nikon F3 dan Pentax.

"Bukan main rasanya di tahun segitu saya punya kamera bagus meski bukan beli sendiri.Karena penasaran ingin familiar cara mengoperasikannya, saya  lantas mengambil kursus setahun di Surabaya School of Fotography," ujarnya dengan suara lantang antusias.

Hadiah kamera itu yang kemudian mengubah selera Ratno, dari yang semula hobby naik turun panggung dengan grub band nya, sejak tahun 1984 dia kemana mana membawa 'senjata baru' kamera untuk memotret kegiatan di Deppen. Meski pada akhirnya Deppen 'dilikuidasi' dan Ratno harus bergabung dengan Pemkot Surabaya, tugas memotret itu tetap disematkan padanya sampai pensiun dari Humas Pemkot Surabaya.

"Saya senang mas kalau hasil bidikan potret saya lantas dinaikkan atau dipakai media massa untuk pemberitaan. Rasanya hati ini marem dan plong mas. Ternyata karya saya laku di media massa," ujarnya, kali ini tetap dengan senyum khasnya.

Dari ribuan bidikan dari kamera di tangannya, banyak peristiwa yang telah diabadikan. Mulai kegiatan seremonial, aneka peristiwa seperti banjir dan kebakaran serta razia satpol PP dan penutupan Dolly. Sedikitnya 10 prestasi juara lomba foto pernah diraihnya  karena ketelatenannya. Namun dari sederet moment itu ada satu peristiwa yang sampai kapanpun tak bisa hilang dari ingatan Ratno, yakni ketika motret banjir luapan Kali Lamong di Sumberejo.

"Saat itu Pemkot kirim bantuan sembako untuk warga yang terkepung banjir. Ada beberapa pejabat yang ikut naik mobil pick up yang memuat sembako itu. Nah ketika ancang ancang membidikan lensa kamera dengan mencari posisi yang pas, tiba tiba byur...saya kecebur tambak kedalaman tiga meter," kata Ratno dengan ekspresi mimik lucu.

Dengan pakaian basah kuyub bercampur lumpur tambak, Ratno lantas balik ke rumah dan menservice kan kamera yang juga ikut terjerembab air tambak. Perisitiwa ini tidak membuatnya kapok bertugas sebagai juru foto Humas, tetapi malah membuatnya semangat dan eksis hingga pensiun.

Ratno yang keduanya anaknya sudah bekerja ini mengaku tetap akan berkarya setelah pensiun dari PNS Pemkot Surabaya. Beberapa rencana telah disiapkan mulai dari menjadi fotografer lepas, membuka studio foto sampai melayani paket dokumentasi acara pernikahan dll. Pengalamannya yang mumpuni di bidang fotografi tentu akan menjadi pembeda dan rujukan dalam menggeluti bisnis fotografi . Sukses ya Cak Ratno...(SK1)






 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com