Komisi D Bahas Pendidikan Mental Budaya Untuk Anak PAUD PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Kamis, 23 November 2017 21:43

Surabayakita.com - Mengajari anak tentang budaya bisa dilakukan sejak balita melalui pedidikan pra sekolah PAUD. PAUD sendiri akan mendapat perhatian lebih dari Pemkot Surabaya melalui APBD 2018.

Melalui pembahasan di Komisi D DPRD Surabaya untuk APBD 2018, rencana pendidikan pra sekolah PAUD akan lebih dioptimalkan. PAUD yang kini jumlahnya sekitar 11 ribu tersebut akan diberdayakan.

Hal ini disampaikan  Junaedi wakil Ketua Komisi D DPRD Surabaya. Pemberdayaan PAUD tersebut bahkan tidak hanya fokus kepada anak anak yang jadi uridnya. Melainkan juga para orang tua yang anaknya sekolah di PAUD.

Hal ini karena menurut politisi Partai Demokrat itu, sekarang ini sedang berkembang kondisi di mana banyak warga yang bekerja di luar rumah mulai pagi bahkan sampai malam hari. Kondisi ini akan membuat anaknya yang masih balita ditinggal di rumah dengan pengasuh sehingga orang tua tak bisa membimbingnya setiap saat.

"Ini kurang baik untuk perkembangan jiwa si anak. Karena dibimbing sendiri oleh orang tuanya jauh lebih baik dibanding melalui pengasuh. Tapi ini eranya milenial. Ayah dan ibu bekerja sudah menjadi hal yang lumrah. Karena kondisi itu banyak anak kecil yang sekarang ini sudah bermain gadget," ujar Junaidi, Kamis (23/11/2017).

Padahal di saat balita membutuhkan belaian orang tuanya, sangat vital memegang peranan penting untuk perkembangan mentalnya. Komisi D ingin fungsi orang tua ini harus dikembalikan karena sangat penting artinya dalam sebuah keluarga.

"Sasaran kami adalah Bunda PAUD, keberadaannya harus lebih diberdayakan karena berkaitan langsung dengan anak didiknya. Nantinya, Bunda PAUD tidak hanya mengajar anak-anak, tetapi juga orang tua anak tersebut,” tandasnya.

Tujuannya, agar orang tua anak yang telah mendapatkan arahan dan bimbingan dari Bunda PAUD bisa menerapkan sekaligus mengendalikan prilaku anaknya, saat berada di tengah keluarganya.

“Kapan harus belajarnya, kapan boleh memegang gadget, kapan waktunya mengaji dan kapan juga waktunya bermain. Dengan demikian, prilaku anak akan alami, tumbuh dan kembang sebagaiman mestinya,” harapnya.

Selain itu Junaidi berharap agar siswa sekolah di tingkat SMP diperkenalkan soal adat dan budaya serta etika, saat berada di sekolah.

“Ada kebiasaan yang menjadi budaya seperti siswa mencium tangan gurunya di sekolah. Karena tak ada aturan, maka tidak semua sekolah menerapkannya. Padahal maknanya sangat penting," katanya.

Ketua Fraksi Partai Demokra DPRD Surabaya ini berharap agar seluruh sekolah di Kota Surabaya kembali kepada budaya luhur bangsa Indonesia yang erat sekali dengan sebutan adat ketimuran.(SK1)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com