Warga Lansia Medokan Semampir Membuat Kebun Sayur PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Selasa, 10 April 2018 20:15

Surabayakita.com - Para lansia di kawasan Semampir ini boleh dibilang cukup kreatif dan tekun. Buktinya mereka berhasil 'menyulap' lahan kosong menjadi tempat yang hijau yang sedap dipandang mata.


Warga Medoakan Semampir berusia lanjut itu berhasil merubah pinggir lapangan seluas 20x20 meter di RT 03 RW 08 yang sebelumnya ditumbuhi rumput liar kini nampak asri. Lapangan tersebut biasanya dipakai warga lansia melakukan senam sehat rutin.

“Usai melakukan senam, kami melihat para lansia tidak ada kegiatan lain. Kemudian saya dan warga berpikir untuk membuat terobosan bercocok tanam di pinggir lapangan agar mereka punya kesibukan,” kata Ketua RT Medokan Semampir Amari, Selasa, (10/4 /2018).

Warga lantas mengumpulkan sisa pipa paralon milik PDAM  yang lantas dipotong potong menjadi beberapa bagian. Pipa pipa ini menjadi media tanam yang baik.

Pipa pida itu memang dimintakan kepada rekanan PDAM. “Setelah kami jelaskan maksud dan tujuan, pihaknya langsung menyerahkan potongan pipa bekas tersebut kepada kami,” ujarnya.

Sedangkan bibit tanaman, lanjut Amari, diperoleh dari Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH). Lalu pupuknya berasal dari tinja dan kompos didapat dari keputih. “Semuanya diperoleh secara gratis,” imbuh pria kelahiran surabaya ini.

Walhasil jerih payah para lansia ini terbayarkan. Sebab selang satu bulan, tanaman milik warga tumbuh subur.

Hal ini karena dipengaruhi beberapa faktor diantaranya, volume kompos yang tinggi dan kondisi tanah yang gembur serta pipa paralon yang digunakan dianggap cocok untuk menanam bibit tanaman seperti lombok, tomat dan terong.

“Jadi saya melihat tanah disini subur lalu bentuk pipa bagian dalam yang dingin dan pada bagian bawah dibuat lubang kecil untuk sirkulasi agar air tidak banyak keluar dan tidak cepat kering,” terang pria alumni ITS tersebut.

Selain lombok, tomat dan terong, pihaknya juga menaman anggur, markisa, pare. Terbaru, ada eksperimen bernama tumpang sari yang mana di dalam satu pipa terdapat 5 jenis tanaman. “Ini masih kita coba dan akan terus kita kembangkan agar ke depan warga bisa berkebun di tengah kota,” imbuhnya.  

Selain bercocok tanam untuk para lansia dan warga sekitar, manfaat lain yang ingin dicapai adalah mengajak anak anak sekolah mulai PAUD dan SD untuk outbond tentang cara belajar bercocok tanam. “Jadi tidak perlu jauh jauh ke luar kota, cukup di wilayahnya sendiri mereka sudah dapat menimba ilmu dan mengurangi biaya,” pungkas Amari.(SK1)

 

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com