Jelang Pilgub Jatim, DPC PDIP Sby Kukuhkan 200 Komandan Saksi PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Sabtu, 14 April 2018 23:16

Surabayakita.com - Jelang pelaksanaan Pilgub Jatim 2018, Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (DPC PDI Perjuangan) Kota Surabaya mengukuhkan 200 orang komandan saksi yang bertugas di lima daerah pemilihan (Dapil).


Ketua DPC PDIP Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana menyebut mereka ini sebagai tentara partai. Pengukuhan tentara partai tersebut ditandai dengan Training of Trainer (TOT) Saksi Badan Saksi Pemilu Nasional (BSPN) DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, di Hall 1 Kampus STIESIA Surabaya, Sabtu (14/4/2018). Menuju Tentara Partai Yang Jujur, Cerdas, Disiplin Dalam Berpikir dan Bertindak adalah tema TOT.

Whisnu Sakti Buana, mengatakan TOT ini merupakan agenda partai. “TOT ini tidak untuk kepentingan pemilu, pilkada semata. Tentara partai ini menjadi delegasi partai untuk doorto door, siap digerakan sewaktu-waktu, menjadi ujung tombak di tingkat bawah,” kata Whisnu.

Menurutnya, BSPN merupakan badan penting untuk keberlangsungan partai. Dulu saksi untuk event lima tahunan dalam rangka pilpres, pilgub dan pemilu legislatif. Direkrut baru mendekati event tersebut. Sehingga pernah ada pengalaman hilangnya saksi alias dibajak partai lain dan baru diketahui saat dua minggu jelang hari H coblosan.

Kini saksi merupakan tentara partai. “Kenapa dibentuk badan saksi nasional? Ini bukan untuk dum-dum (bagi-bagi) rezeki lima tahunan. Tidak begitu. Ke depan kita bicara saksi merupakan tentara partai, pasukan partai,” tandas Whisnu yang juga putra mendiang tokoh PDI Perjuangan kawakkan, Soetjipto.

Namanya tentara, kata Whisnu, harus siap setiap saat. Kapan pun dibutuhkan partai harus siap. Untuk itu Whisnu mengajak saksi menjadi bagian pembentukan kader militan. Tentara partai ini menjadi komandan
pleton di kelurahannya.

Whisnu yang juga wakil wali kota ini menandaskan rekruitmen saksi tidak sebatas satu orang untuk tiap tempat pemungutan suara (TPS), melainkan tiga orang per TPS. Saksi tidak sebatas datang pagi, duduk, mengamati proses pemilihan suara, mengawasi proses penghitungan, dan memberikan laporan.

“Tapi saksi yang jelas hari H pencoblosan harus paham betul siapa yang jadi pendukung, siapa yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap. Ini penting karena lawan berpotensi melakukan kecurangan secara sistematis. Pemilu ajang perang, jangan sampai dicurangi. Antisipasi model kecurangan seperti apapun,” pesan WS, sapaan Whisnu.

Pemilu tahun 2019, menurut Whisnu, akan lebih rumit karena ada lima surat suara yang diterima pemilih. Surat suara untuk pemilihan anggota legislatif kota/kabupaten, provinsi, DPR RI, DPD RI dan presiden.

Waktu penghitungan surat suara yang diperlukan lebih lama. Tiap kotak suara bisa memakan waktu tiga jam. “Tunjukan PDI Perjuangan Surabaya barometer nasional,” pesan Whisnu lagi.

Sementara itu, Kepala Badan Saksi Pemilu Nasional (BSPN) DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Sukadar, menambahkan,saksi merupakan tentara partai yang akan ditugaskan di masing-masing wilayah. “TOT ini dalam rangka menciptakan tentara partai di tingkat TPS, PPS dan PPK. Dalam hal ini untuk mengawal proses pemilu,” kata Sukadar.

Tentara partai tersebut bersifat Ad Hoc, tetap atau permanen. “Dipersiapkan mengawal pilgub Jatim untuk kemenangan pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno, pemilu 2019, mengawal upaya menjadikan Joko Widodo sebagai presiden untuk periode kedua. Dan akan mengawal Pak Whisnu (Whisnu Sakti Buana) sebagai wali kota Surabaya,”
pungkas Sukadar.

Sekadar diketahui, selama TOT ada banyak materi pelatihan disampaikan. Termasuk kader yang sebelumnya pernah menjadi saksi didaulat untuk testimoni pengalaman. Selain itu mereka juga diminta menyusun strategi menjadi tentara partai di masing-masing dapil, apa saja perlengkapan yang harus dibawa dan persiapan lain. Strategi dipaparkan bergiliran untuk dievaluasi dan baru  diberi materi dari BSPN. (SK1)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com