Pemkot Surabaya Minim Dana Untuk Cagar Budaya PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Senin, 08 Juni 2009 22:08

Upaya pelestarian bangunan kuno yang masuk kategori cagar budaya di Surabaya masih setengah setengah. Sebab Pemerintah Kota Surabaya memiliki anggaran yang tidak layak untuk upaya pelestarian agar gedung gedung tua peninggalan Belanda itu tidak punah dan beralih fungsi. Dana yang dianggarkan dari APBD 2009 sebesar Rp 40 juta itu hanya cukup untuk membantu pengecatan dinding luarnya saja.

 

 

Dra. Wiwiek Widayati Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya mengakui minimnya dana tersebut. Anggaran itupun baru ada sejak APBD 2009 ini, tahun tahun sebelumnya belum ada. “ Dana ini memang tidak terlalu besar, sehingga kami hanya bisa membantu pemilik gedung untuk pengecatan saja supaya tidak terlihat kusam,” jelas Wiwiek. Kepedulian Kota Surabaya dengan bangunan kunonya memang masih kalau jauh dengan DKI Jakarta. Konon di DKI Jakarta tiap tahun dianggarkan hingga Rp 20 milyar.

 

Berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya nomor 646/2689/436.5.12/2008 terdapat 80 bangunan yang masuk cagar budaya baik dari golongan bangunan atau lingkungannya. Ke 80 bangunan yang tersebar se Surabaya itu masuk klasifikasi A, B dan C. Sedangkan 66 bangunan lainnya juga menyusul ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 16 April 2009. Untuk klasifikasi A berdasarkan Perda 5 tahun 2005 dilarang keras merubah bentuk bangunan aslinya. Jika roboh maka harus dikembalikan sesuai rancangan aslinya. Bangunan yang masuk cagar budaya tersebut antara lain House of  Sampoerna, Klenteng Boen Bio, Viaduct KA Ngaglik, Stasiun Wonokromo, Toko ice cream Zangradi, Gedung SDN Ketabang, Gedung Setan, Masjid Kemayoran, Toko Nam dan Rumah Sakit Al Irsyad.

 

Keberadaan bangunan peninggalan kolonial Belanda ini masih banyak yang berdiri tegak, kokoh dan kuat. Maklum rata rata gedung yang dibangun zaman Belanda sudah terkenal dengan kekuatannya sampai beberapa generasi. Jika gedung tersebut digunakan untuk perkantoran pemerintah, BUMN atau swasta yang bonafide tentu perawatan secara rutin terus dilakukan karena memang setiap tahun selalu dianggarkan biayanya. Tapi berbeda jika gedung gedung itu tidak ditempati dan apalagi atas kepemilikan pribadi, keberadaannya menjadi tak terurus dan kusam. Ironisnya posisi gedung gedung tua ini terletak di zona bisnis Surabaya yang setiap hari selalu ramai orang berlalu lalang. Misalnya di sepanjang Jl. Veteran dan Gubernur Suryo (depan Balai Pemuda).

 

Memiliki gedung tua yang masuk cagar budaya memang tidaklah muda. Selain tidak boleh sembarangan mengubah bentuk bangunan, jenis usahanyapun tidak boleh diganti harus sama seperti  ketika Belanda masih bercokol di Surabaya. Kasus ini menimpa pemilik gedung Ice cream  Zangrandi Jl Yos Sudarso. Konon Ice cream ini sangat terkenal dan menjadi jujugan kaum bangsawan termasuk nonik nonik Belanda bersama pasangannya yang ingin menghabiskan waktu senggang di tempat itu. Meski zaman telah berputar ratusan derajat sekarang ini, orang yang punya gedung Zangrandi bukan hanya tidak boleh merubah frontal bangunannya tetapi juga tetap harus berjualan ice cream jika tetap berbisnis di tempat itu. Ini susah bagi pemiliknya karena tempat parkir terbatas, kawasan ini juga padat kendaraan dan competitor ice cream semakin banyak dengan tempat yang lebih nyaman. “ Bangunan itu memang khusus untuk jualan ice cream tidak boleh berubah fungsi,” jelas RM Yunani salah satu anggota Tim Cagar Budaya. Pemerintah Kota Surabaya sejak 7 Juli 2008 memang memiliki Tim Cagar Budaya yang disahkan dengan SK Walikota. Tim ini terdiri atas 15 orang dari berbagai kalangan. Tugasnya untuk selalu memonitor keberadaan bangunan yang masuk cagar budaya ataupun mengusulkan perlu tidaknya suatu gedung menjadi cagar budaya.(red)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com