Ubhara Gandeng RMUTT Thailand Wujudkan Double Degree PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Kamis, 20 Mei 2010 04:25

Program double degree yang dilakukan Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya dengan Raja Mangala University of Technology Thanyaburi (RMUTT) Thailand akan terealisasi pada Juni.

Program yang diawali dengan penandatanganan kesepakatan kedua belah pihak pada 4 Februari lalu akan menyeleksi pesertanya baik secara akademik maupun non akademik.

Rektor Ubhara, Drs Suharto, SH MHum, di kantornya, Rabu (19/5) mengatakan, program  double degree (gelar ganda) ijazah yang diakui di dua negara Thailand dan Indonesia. Ini merupakan jalinan kerjasama yang ditandatangani Rektor Ubhara dengan Presiden RMUTT Thailand Prof Numyoot Songthanapitak.

“Meski realitas politik di Thailand dua bulan terakhir kurang kondusif dengan adanya konflik antara pemerintah dengan demonstran kaos merah, kami tetap bertekad untuk meneruskan program double degree. Sejumlah pertemuan intens kami lakukan untuk memuluskan terealisasinya program ini,” ujarnya.

Suharto menjelaskan, bentuk-bentuk kerjasama pada double degree antara lain pengiriman mahasiswa program studi teknik sipil, teknik elektro, program studi manajemen dan program studi ilmu hukum. Selain itu kerjasama juga diwujudkan dalam bentuk join riset, publikasi jurnal, penyelenggaraan seminar, workshop, dan pengiriman dosen.

Sedangkan visi utama kerjasama itu yakni peningkatan kualitas pengajaran, sehingga melahirkan lulusan yang unggul dan berkompeten. “Pesertanya nanti akan diseleksi baik secara akademik maupun non akademiknya,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, Ubhara telah menyiapkan semua keperluan untuk menyambut mahasiswa RMUTT Thailand. Sebagai langkah awal Ubhara akan pengiriman dosen teknik untuk menempuh studi S3 di RMUTT Thailand. "Saat ini kami masih menyiapkan kelas internasional yang mungkin akan terlaksana pada tiga tahun mendatang. Kami akan membuka kelas internasional dengan 20 mahasiswa," katanya.

Ditanya mengapa memilih menjalin kerjasama dengan universitas di Thailand, ia mengatakan keuntungan itu di antaranya menambah kemampuan berbahasa bagi mahasiswa (menggunakan bahasa Inggris, red), biaya hidup dan kuliah mahasiswa yang terjangkau, serta peluang kerja di Thailand cukup besar.

"Paling tidak ada dua bahasa yang dapat dipelajari mahasiswa kami, yakni Inggris dan Thailand. Kalau Bahasa Inggris mungkin akan menjadi bahasa pengantar kuliah, sedangkan Bahasa Thailand akan menjadi bahasa keseharian," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, mahasiswa Indonesia  yang nantinya menempuh studi di sana merupakan mahasiswa ke-enam yang kuliah di RMUTT setelah Jerman, Cina, Taiwan, Jepang, dan Amerika Serikat.(red)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com