Ekspor Jatim Meningkat 17 Persen PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Jumat, 04 Juni 2010 05:17

Nilai ekspor Jawa Timur untuk kategori antar pulau hingga awal Juni 2010 mengalami kenaikan sebesar 17 persen atau sekitar Rp 200 triliun dibanding tahun 2009 yang nilainya mencapai Rp 172 triliun.
Besarnya ekspor antar pulau ini lebih besar dibandingkan dengan ekspor luar negeri yang hanya mencapai separuhnya yakni sekitar 13-14 miliar Dolar AS.

Gubernur Jatim, Dr H Soekarwo saat bertemu dengan pimpinan BUMD Jatim di Hotel Bumi Surabaya, Kamis (3/6) menjelaskan, kenaikan pada ekpor antar pulau ini menjadi keberhasilan Jatim dari sektor produksi, sehingga perlu ditingkatkan. Bahkan, ia menargetkan peningkatan yang lebih besar lagi atau lebih dari Rp 200 triliun pada akhir 2010.

Pada 2009, perkembangan ekspor antar pulau meningkat sebesar 12,13 persen dari tahun 2008. “Jika dibandingkan, perkembangan tahun ini cukup besar. Untuk itu berbagai upaya harus tetap dilakukan untuk meningkatkan nilai ekspor antar pulau Jatim,” ungkapnya. Sedangkan untuk ekspor luar negeri yang tahun lalu mengalami kontraksi 4,73 persen, kini masih dalam kondisi stabil.

Ia menuturkan, kondisi impor pun kini juga mengalami kenaikan yang sama dengan ekspor. Namun, dari segi nilai kenaikannya masih relatif lebih rendah, yakni sebesar 1,78 persen dari total impor non migas sebesar 117 persen.

Dari total itu, sebanyak 78 persennya didominasi dari impor bahan baku produksi. Menurut dia, bahan baku ini pada dasarnya bisa diproduksi sendiri. “Walaupun sebagian besar bahan baku masih mengimpor dari luar, tapi Jatim juga masih bisa mengimbangi dari meningkatnya nilai ekspor,” ujarnya.

Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim, Fatah Yasin menambahkan, dengan besarnya peningkatan nilai ekspor antar pulau, ekspor luar negeri dan impor yang berdampak meningkatkan nilai ekspor Jatim ini tentu mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jatim. Bahkan, pihaknya menargetkan pertumbuhan ekonomi Jatim meningkat hingga 6,01 persen pada awal 2011 mendatang.

Optimistis tersebut mengacu pada kinerja pertumbuhan ekonomi Jatim di triwulan I periode Januari-Maret 2010 yang mencapai 5,82 persen atau naik dari posisi akhir 2009 yang hanya mencapai sekitar 5 persen. Besarnya nilai pertumbuhan itu diperoleh dari sektor sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,26 persen. Selanjutnya disusul sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 10,14 persen, sektor pertambangan dan penggalian 9,89 persen, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran 9,62 persen.

Stuktur ekonomi Jatim pada triwulan I 2010 ditopang tiga sektor utama, yaitu perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 28,44 persen, industri pengolahan 27,37 persen, dan pertanian 19,67 persen. Ketiga sektor tersebut memberikan kontribusi perekonomian terbesar di Jatim.

Bahkan pada triwulan II/2010, pertumbuhan ekonomi Jatim diproyeksikan pada kisaran 5,9 persen. Dari hasil Kajian Ekonomi Regional (KER) Bank Indonesia (BI) Surabaya bulan Mei lalu menyebutkan, pendorong pertumbuhan tersebut adalah konsumsi yang diperkiran meningkat signifikan serta didukung oleh peningkatan investasi dan ekspor-impor seiring berlanjutnya pemulihan ekonomi global dan membaiknya permintaan dari negara mitra dagang. “Dengan besarnya potensi ekspor Jatim, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Jatim 2011 meningkat pesat melebihi angka nasional dan daerah lain,” tegasnya (red)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com