Tesa Gandeng LSM Atasi Kriminalisasi Anak PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Rabu, 09 Juni 2010 05:18

Telepon Sahabat Anak (Tesa) 129 menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk ikut mengatasi kejahatan dan kekerasan pada anak. Sebagai langkah awal, saat ini pengurus sedang menyusun draf nota kerjasama sebelum disepakati beberapa LSM di Jatim.

Koordinator Tesa 129 Jatim, Budiyati, dalam rapat koordinasi tim Tesa 120 di Surabaya, Selasa (8/6/2010) mengatakan, selama ini, koordinasi dengan LSM kurang optimal. Kalaupun ada LSM yang ikut membantu dalam mengatasi kasus dari kliennya Tesa 129. Itupun hanya bersifat sesaat dan tidak simultan.

Strategi menjadikan LSM sebagai mitra tetap dan memasukkannya dalam sebuah tim khusus. Diharapkan penanganan kejahatan pada anak akan lebih terorganisir, karena keanggotaan tim makin banyak.

Selain dengan LSM, koordinasi dengan instansi-instansi pemerintahan yang juga memiliki tugas penanganan kejahatan dan kekerasan pada anak juga lebih dioptimalkan.

Draf nota kerjasama dengan LSM nantinya juga akan ditandatangani bersama oleh instansi pemerintah, seperti Polda Jatim, Dinas Sosial, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Kominfo, termasuk Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim.

Dikatakannya, kejahatan anak yang paling dikhawatirkan adalah terjadi dengan menggunakan media internet atau dunia maya. Berdasarkan hasil riset Yahoo di Indonesia yang bekerjasama dengan Taylor Nelson Sofres pada tahun 2009, pengguna terbesar internet adalah usia 15-19 tahun, sebesar 64 persen.

Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, usia 0-18 tahun tergolong usia anak-anak. Riset itu dilakukan melalui survei terhadap 2.000 responden. Sebanyak 53 persen dari kalangan remaja itu mengakses internet melalui warung internet (warnet), sementara sebanyak 19 persen mengakses via telepon seluler.

Pananganan kejahatan anak yang kasusnya bermula dari media internet, membutuhkan koordinasi dari berbagai pihak, termasuk jaringan antar LSM. Salah satu kejahatan yang bisa menimpa anak-anak, misalnya, pelecehan seksual terhadap anak-anak melalui chat room dan media sosial seperti Facebook, Friendster, Twitter, dan lain-lain. Bentuknya, mulai dari tak adanya kontak fisik sampai yang berlanjut pada kontak fisik.

Awal tahun 2010, Tesa 129 telah menangani empat kasus kejahatan anak yang. Empat kasut tersebut, meliputi traficking satu kasus, satu kasus anak terlantar, anak dilarikan pacar dan problematika rumah tangga akibat orangtuanya akan bercerai masing-masing satu kasus.

Tahun 2009, relawan Tesa 129 mendapatkan pengaduan 155 kasus. Meski relawan tidak mampu ikut serta menyelesaikan berbagai problem yang diadukan, namun paling bimbingan dan konseling yang diberikan dapat mengurangi beban yang dialami anak-anak yang mengadu (red)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com