Bijak Sikapi Anak Yang gagal Unas PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Kamis, 08 Mei 2014 10:01

Surabayakita.com - Setiap tahun menjelang, saat dan pasca pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMP dan SMA, (karena SD mulai 2014 UN dihapus) selalu menjadi topik rutin yang dibicarakan di berbagai forum.

Pro dan kontra  penghapusan UN pun kembali santer disuarakan. Ada yang mengatakan UN tetap penting sebagai tolak ukur kualitas pendidikan secara nasional, sebaliknya ada juga yang berpendapat UN bukan langkah prioritas sebagai alat ukur kualitas pendidikan secara nasional karena kualitas pendidikan di masing-masing daerah dan kota di Indonesia berbeda. Karena selain dari kualitas pendidik, kelengkapan fasilitas, kondisi ekonomi masrakat setempat dan karakteristik-karakteristik lain, juga berbeda.

Memang ujian yang dilaksanakan sebagai penanda selesainya proses pembelajaran dan pendidikan di suatu jenjang pendidikan dari dulu juga ada. Sebut saja dulu ada yang namanya Ebtanas (evaluasi belajar tahap akhir nasional). Judulnya adalah parameter tingkat NASIONAL juga. Dan yang namanya siswa tidak lulus sekolah dari dulu juga ada. Tapi kenapa dulu semua tenang-tenang saja, sedangkan sekarang super heboh ?

Jawabannya banyak faktor. Kran keterbukaan telah terbuka lebar, siapapun, di manapun bisa bicara apapun. Media sangat banyak dan mudah diakses. Akses informasi yang mudah ini, membuat masyarakat lebih cerdas kalau dibanding jaman dulu, iya. Tapi harus kita akui juga dampak dari akses informasi yang mudah, jika masyarakat tak pintar memfilter, akan gampang terprovokasi dan akhirnya terjadi kepanikan.

Pihak sekolah panik karena tingkat kelulusan sekolah sangat erat kaitannya dengan reputasi sekolah yang tentunya akan menjadi catatan prestasi bagi kepala sekolah.  Kepala sekolah "menekan" guru agar anak didiknya lulus dengan nilai terbaik. Guru menekan anak didik agar terus belajar matematika, ipa, ips, bahasa indonesia, bahasa inggris dan pelajaran lain yang di- UN kan sehingga setiap hari latihan mengerjakan soal-soal terus. Orang tua juga menekan anaknya agar belajar terus supaya nilainya bagus, lulus, dan bisa masuk sekolah favorit. Akhirnya yang merasakan tekanan terberat adalah siswa. Akumulasi tekanan yang dirasakan siswa akan mengganggu kondisi psikologis siswa itu sendiri.

“Orang tua harus arif dalam menyikapi persoalan yang dihadapi anak. Termasuk saat anak menghadapi ujian nasional. Tuntutan orang tua, guru, kepala sekolah, lingkungan, blow up media akan semakin membuat siswa terbebani”. Kata Maria Farida S.Psi salah satu penggagas Komunitas Psikolog Peduli Keluarga (KOPPKA) pada Surabayakita.com.

Maria Farida juga mengatakan orang tua adalah figur utama yang bertanggungjawab pada pola asuh anak. Karena waktu anak lebih lama bersama orang tuanya daripada dengan gurunya di sekolah. Maka dari itu orang tua juga harus berada di jarak paling dekat dengan anak ketika anak mengalami tekanan termasuk mengalami kegagalan.

Menurut Maria Farida orang tua harus optimis anak sukses UN, nilai bagus, dan masuk sekolah yang diidam-idamkan. Tapi orang tua juga harus memikirkan kemungkinan negatif yang akan terjadi, bagaimana kalau anak gagal UN. Berikut tips yang dibagi Maria Farida, S.Psi pada pembaca Surabayakita.com.

~ Orang tua harus memahami bahwa raport, ijaah, yang berisi nilai-nilai akademis bukan jaminan keberhasilan masa depan. Kegagalan dalam UN bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari kesuksesan yang tertunda.

~ Senyum dan peluk anak yang gagal mencapai standar nilai yang ditentukan. Beri rasa nyaman pada anak dan tunjukkan bahwa anda adalah orang tua yang akan selalu mendampinginya.

~ Duduk bersama. Tenangkan anak, ajak anak makan bersama di tempat yang membuat anak merasa nyaman. Tenangkan dan semangati anak bahwa gagal UN itu tidak perlu disikapi dengan sedih dan putus asa. Beri alternatif jalan untuk tetap bisa melanjutkan pendidikan misalnya dengan ujian kejar paket.

~ Cari potensi dan talenta anak untuk dikembangkan. Jangan persoalkan kegagalan, jangan melihat kelemahan tapi tunjukkan kelebihannya. Dan yang lebih penting berikan siraman rohani. (ENDAH)

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com