Setelah Married, Jadi Ibu Rumah Tangga Atau Bekerja PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Kamis, 29 Mei 2014 06:55

Surabayakita.com - Menentukan pilihan untuk tetap bekerja atau berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, bagi perempuan yang telah menikah, sering menjadi dilema.

Perempuan, terutama yang tinggal di kota besar seperti Surabaya, ingin selalu menunjukkan eksistensi dirinya melalui jalur karir profesional. Pendapatan pribadi yang diterima adalah wujud kebanggaan sekaligus identitas sebagai individu yang mandiri dan mampu beraktualisasi serta bersosialisasi.

Namun di sisi lain, perempuan sering berbenturan dengan peran gandanya yang tidak dimiliki laki-laki, ketika perempuan telah berstatus sebagai isteri.  Ketika perempuan terikat dalam sebuah pernikahan, kemudian memiliki keturunan, kewajiban yang harus dijalankan berlipat ganda.

Beda dengan laki-laki, kalau sebelum terikat dengan pernikahan, dia melakukan banyak hal sendiri, cuci baju, makan, menyiapkan baju  kerja, merapikan tempat tidur, semua dilakukan sendiri. Nah ketika sudah menikah, isteri secara alami mengambil alih peran tersebut. Sedangkan perempuan semakin berlipat ganda peran domestiknya.

Maka tak heran ketika dihadapkan pada pilihan, harus berhenti bekerja menanggalkan semua atribut 'keprofesionalan' untuk menjadi ibu rumah tangga atau terus berkarir dengan ikatan profesi. Banyak perempuan yang mengaku mengalami dilema, karena ini pilihan yang sulit.

"Persoalannya bukan harus bekerja atau harus menjadi ibu rumah tangga. Tapi bagaimana kita sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu, bisa menjaga keseimbangan dalam menjalankan berbagai peran. Entah itu peran domestik maupun peran publik," Kata Hj. Farida Martarina, Ketua Forum Komunikasi Keluarga Anak dengan Disabilitas Jawa Timur pada Surabayakita.com.

Kalau keseimbangan kualitas dan kuantitas peran yang dijalankan ibu bekerja tidak dapat dicapai, keluarga terbengkalai, anak tidak terurus dan tidak mendapat pola asuh yang baik, karir pun jalan di tempat. Suami merasakan waktu anda lebih banyak habis di luar rumah, saatnya ibu/perempuan mengevaluasi, untuk menentukan skala prioritas, posisi mana yang harus diambil. Berkarir di sektor publik atau menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu yang harus memenuhi hak anak, termasuk hak untuk mendapatkan kasih sayang secara utuh dari ibunya agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas.  

"Ibu harus punya ukuran untuk menentukan pilihan sebagai ibu rumah tangga atau ibu yang berkarir di luar. Dan ukuran itu macam-macam.  Mulai dari mental si ibu sendiri sampai pengaruh pada keluarga dan anak,” imbuh Farida Martarina.

* Siapkan Mental Dan Bangun Komunikasi *
Tidak mudah bagi perempuan yang telah lama bekerja untuk menjadi ibu rumah tangga. Ranah rumah tangga berbeda dengan ranah profesional. Ketika berkarir, seseorang berinteraksi dengan begitu banyak orang dengan beragam latar belakang. Lingkungan yang luas dan keragaman  membuat seseorang bahagia. Sementara dalam rumah tangga biasanya si ibu hanya berinteraksi dengan anak, asisten rumah tangga, suami atau tetangga. Untuk menghindari rasa bingung dan frustrasi dengan pilihan sebagai ibu rumah tangga, siapkan mental dan tetap bangun komunikasi dengan banyak teman.

* Keuangan *
Masalah finansial juga menjadi ukuran penting sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja. Kalau selama ibu bekerja penghasilannya bisa menutup kekurangan yang signifikan, maka berhenti bekerja harus lebih dipertimbangkan karena sudah pasti akan mengurangi pendapatan keluarga. Apakah penghasilan suami mencukupi untuk memenuhi hak istri dan anak ? Komunikasikan ini dengan suami.

* Anak Lebih Dekat Dengan Baby Sitter *
Farida Martarina yang pernah mengalami “dilema” berkarir atau ngurus anak dan keluarga menjelaskan, jika anak tidak menangisi ketika anda tinggal pergi, dan justru menangisi baby sitter yang pulang kampung, ini tanda tanya besar dan ibu harus mengevaluasi. Karena Ibu adalah pengendali, pendamping, pengasuh, teman, pendidik yang utama bagi anak.

Keputusan untuk menjadi ibu rumah tangga adalah mulia. Jangan sia-siakan kesempatan untuk memberikan yang terbaik pada anak di saat yang tepat. Berkarir bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga. (Endah)

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com