IAKMI Gagas Gerakan Anti Rokok Print
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Selasa, 25 Mei 2010 07:17

Gerakan anti merokok  dan menghentikan merokok akan dilakukan dengan memanfaatkan jejaring. Hal ini untuk mencegah bertambahnya jumlah korban atau penderita kanker yang diakibatkan merokok.

Ketua Tobacco Control Support Center (TCSC) Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Jatim, dr. Santi Martini M.Kes, ditemui di sela-sela acara rapat jejering di kantor Balai Kesehatan Masyarakat Jl Bendul Merisi 7 Surabaya, Senin (24/5) mengatakan, IAKMI selalu melakukan jejaring dengan berbegai lembaga, instansi pemerintah, LSM, dunia pendidikan (perguruan tinggi, sekolah), dan kalangan jurnalis. Tujuannya, adanya pemahaman dan pengertian masyarakat sehingga berhenti merokok meningkat dan jumlah perokok menurun.

Menurutnya, merokok dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada tubuh, mulai dariujung rambut hingga ujung kaki. Namun ada solusi untuk menghindarkan ketergantungan merokok, di antaranya mengupayakan mengurangi merokok secara bertahap dan selalu memberikan motivasi kepada perokok untuk berhenti merokok. “Semuanya cara dapat dilakukan dalam mengurangi ketergantungan merokok, baik melalui tradisional maupun dengan medis atau modern,” ujarnya.

Upaya lainnya, IAKMI telah membentuk badan pengendalian tembakau. Tujuannya, membentuk jaringan pengendalian dampak tembakau pada tingkat daerah, membentuk kerjasama jaringan pengendalian tembakau pada tingkat daerah dengan aliansi jaringan pada tingkat nasional maupun internasional, meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya adiksi nikotin, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dampak merugikan penggunaan tembakau secara benar dan komprehensif, dan mendorong pemerintah untuk menandatangani Framework Convention for Tobacco Control (FTCT).

Lebih lanjut Santi menuturkan, rokok adalah produk berbahaya bagi kesehatan tubuh. Dalam hal ini, rokok mengandung 4.000 zat kimia, 69 di antaranya adalah karsinogenik (pencetus kanker). Beberapa zat berbahaya yang terkandung dalam rokok antara lain tar, sianida, arsen, formalin, karbonmonoksida dan nitrosamine.

Selain itu, rokok adalah penyebab kematian terbesar yang dapat dicegah di dunia. Satu dari 10 kematian orang dewasa disebabkan konsumsi rokok. Tiap tahun rokok menyebabkan kematian 5,4 juta orang (data WHO 2004) atau rata-rata satu kematian setiap 5,8 detik.  Perokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar di dunia. Lebih dari 60 juta penduduk Indonesia merokok. Kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok tiap tahun mencapai 427.948 orang atau 1.172 orang per hari.

Sementara, kerugian akibat rokok melebihi pendapatan cukai. Tahun 2005 cukai rokok sebesar Rp 32,6 triliun, tetapi biaya konsumsi rokok mencapai Rp 167 triliun atau lima kali lipat. “Kalau menghilangkan atau menutup pabrik rokoknya jelas tidak bisa dilakukan berkaitan dengan hidup orang banyak. Tapi, kalau menghentikan ketergantungan merokok itu bisa kami lakukan. Untuk itulah melalui jejaringan ini diharapkan bisa menjadi penggerak menghentikan merokok,” paparnya (red)