Reklamasi Lahan Tambang Bagi Kelestarian Alam Indonesia PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Senin, 21 September 2015 13:39

Reklamasi Lahan Tambang Bagi Kelestarian Alam Indonesia


Kompol Ronny  Tri P. Nugroho, SIK
Pasis Sespimmen Polri Dikreg ke-55/2015

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Issue global warming menjadi santer diberitakan sebagai bagian dari sosialisasi pentingnya menjaga lingkungan hidup agar tetap lestari. Global warming atau pemanasan global adalah fenomena meningkatnya suhu panas bumi. Hal ini karena adanya berbagai sumber yang mendorong terciptanya pemanasan global seperti, kerusakan alam serta peningkatan kadar CO2 yang tidak terkendali, yang berdampak panas matahari tidak dapat dipantulkan kembali ke luar karena tertutupi oleh partikel-partikel atau lapisan di atmosfer. Berbagai upaya kelompok-kelompok pemerhati lingkungan untuk melakukan sosialisasi agar lebih consern terhadap kondisi lingkungan saat ini.

LSM seperti WALHI hingga pemerintah terus mengembangkan program penanaman pohon kembali, seperti gerakan sejuta pohon dan program satu rumah satu pohon merupan langkah-langkah pembinaan kepada masyarakat untuk lebih peka terhadap kelestarian alam. Peningkatan kesadaran dan wujud kepedulian lingkungan pada masyarakat dewasa ini terus berkembang hingga sekarang. Masyarakat semakin menyadari pentingnya pelestarian bagi kelangsungan hidupnya, baik untuk masa sekarang maupun untuk generasi yang akan datang.  Masyarakat terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Tetapi, tidak berarti harus merusak dan mencemari lingkungan sehingga mengancam kelestarian kehidupan dan mengurangi hak generasi yang akan datang. Oleh karena itu yang harus kita lakukan pelestarian lingkungan Artinya tetap membangun untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa mengurangi hak generasi yang akan datang.

Salah satu langkah yang tengah dilakukan oleh para penggiat lingkungan hidup adalah pelaksanaan reklamasi terhadap lahan-lahan tambang yang sudah tidak produktif. Hal ini dilakukan untuk mencegah dampak negatif yang dihasilkan dari tambang-tambang yang telah ditinggalkan. Bukit-bukit berpasir dan lahan-lahan yang rusak berpotensi menimbulkan bencana alam, seperti banjir dan longsor, dll. Reklamasi merupakan suatu proses perbaikan pada suatu daerah tertentu (lahan bekas tambang) sebagai akibat dari kegiatan penambangan, sehingga dapat berfungsi kembali secara optimal. Dalam melaksanakan reklamasi diperlukan perencanaan yang matang agar tepat pada sasaran. Perencanaan reklamasi harus sudah dipersiapkan sebelum kegiatan penambangan Karena telah di atur dalam dokumen lingkungan.

Secara umum yang harus diperhatikan dan dilakukan dalam merehabilitasi/reklamasi lahan bekas tambang yaitu dampak perubahan dari kegiatan pertambangan, pencegahan air asam tambang, pengaturan drainase dan tata guna lahan pasca tambang. Reklamasi lahan bekas tambang selain merupakan upaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan pasca tambang, agar menghasilkan lingkungan ekosistem yang baik dan diupayakan menjadi lebih baik dibandingkan rona awalnya, dilakukan dengan mempertimbangkan bahan galian yang masih tertinggal.

Kesadaran akan permasalahan lingkungan hidup mendorong Negara berkembang seperti Indonesia memikirkan tentang lingkungan maka lahirlah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang – undang ini merupakan kesempurnaan dari Undang-undang No 23 Tahun 2007.
Regulasi di atas menjadi pijakan untuk melakukan perbaikan lingkungan pasca tambang,  sehingga dampak kerusakan lingkungan bahkan sosial dapat diminimalisir. Prosedur teknis reklamasi tambang hingga penutupan tambang juga telah disiapkan secara jernih oleh pemerintah. Ketentuan reklamasi diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 18 Tahun 2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang.

Reklamasi lahan tambang menjadi bagian penting dari suatu siklus hidup kelestarian alam, karena tuntutan terhadap lingkungan yang berdaya guna. Keseluruhan proses pembangunan tambang dan rencana penggunaan lahan pada masa pasca tambang merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan. Kegiatan reklamasi disesuaikan dengan rencana akhir pemanfaatan lahan bekas tambang, misalnya untuk tujuan kehutanan, perkebunan, ekowisata, ataupun sebagai pemukiman.
Pemanfaatan dapat dilakukan sesuai dengan kebijakan masing-masing perusahaan pertambangan yang disesuaikan dengan karakter lahan bekas tambang, dengan catatan tetap memperhatikan aspek lingkungan.
Pelaksanaan reklamasi tambang tidak hanya sebagai upaya dalam memperbaiki dan mencegah terjadinya bencana alam, namun dapat dijadikan sebagai bagian dari penambahan nilai ekonomis.

Reklamasi lahan dengan menanam vegetasi yang bernilai ekonomis, seperti penanaman pohon-pohon keras yang memiliki nilai jual yang tinggi, seperti, pohon jati, sengon, karet dll mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dan memperbaiki wilayah tambang yang telah digunakan tersebut menjadi hutan reklamasi yang berguna sebagai sumber oksigen bagi bumi. Keberhasilan reklamasi lahan tambang menjadi hutan produksi tidak hanya mendukung terhadap kelestarian alam tetapi sangat menunjang terhadap kegiatan pencegahan global warming maupun deforestasi yang tengah terjadi di Indonesia.(*)

 

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com