Solusi Pas, Mampu Tekan Kenakalan Remaja PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Minggu, 04 Oktober 2015 23:42

Solusi Pas, Mampu Tekan Kenakalan Remaja

Penulis : Kompol Ambariyadi Wijaya
Pasis Sespimmen Polri Dikreg ke-55/2015


Remaja merupakan masa peralihan antara anak-anak dan dewasa. Dimana pada masa ini terdapat keraguan terhadap peran yang akan dilakukan. Remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Alhasil remaja mulai mencoba-coba bertindak dan berperilaku seperti orang dewasa. Misalnya merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Tindakan ini tidak sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku di masyarakat.

Apabila tidak dikendalikan maka dapat menjurus kepada tindak kejahatan. Sebagai contoh, remaja dari keluarga tidak mampu kecanduan obat-obatan terlarang, orang tuanya tidak bisa memberikan uang sebagai alat untuk pemuas kebutuhan sehingga tidak ada jalan lain kecuali mencuri uang temannya. Pencurian ini tergolong kejahatan yang dilakukan oleh remaja atau yang lebih dikenal sebagai kenakalan remaja (juvenile delinquency).

Kenakalan remaja dapat didefinisikan sebagai suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau masa transisi antara anak-anak dan dewasa. Dengan kata lain, kenakalan remaja merupakan tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar peraturan masyarakat maupun hukum yang ditetapkan pemerintah. Perbuatan remaja mencopet, menjambret, menipu, menggarong merupakan perbuatan yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, karena dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang melanggar hukum.

Kasus kenakalan remaja perlu diatasi dengan segera, berbagai pihak ikut bertanggung jawab mengenai masalah ini, seperti kelompok edukatif di lingkungan sekolah, pemerintah, hakim dan jaksa di bidang penyuluhan dan penegakan hukum, kepolisian, masyarakat serta peranan keluarga. Kepolisian dengan tugas memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat diharapkan andilnya dalam mengatasi kenakalan remaja.

Bila kenakalan remaja tersebut dibiarkan atau tidak ditangani secara serius, bukan tidak mungkin akan berubah menjadi tindak pidana yang dilakukan oleh kalangan remaja.   Kejahatan yang dilakukan remaja akhir-akhir ini tentu sangat memprihatinkan. Secara intens, jenis kejahatan yang dilakukan oleh remaja ditunjukkan Crime Index yaitu pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan bermotor, penipuan, penganiayaan berat, penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya, serta kejahatan susila. Jenis kejahatan remaja tersebut memerlukan evaluasi kebijakan penaggulangan yang selama ini ditempuh.

Berbagai upaya penangggulangan telah banyak dilakukan, tetapi hanya menyangkut tindakan kepolisian, bukan pada perbaikan kondisi atau sebab-sebab yang menimbulkan kejahatan itu sendiri. Jadi kebijakan yang diambil hanya kebijakan yang parsial saja tidak menyentuh kepada akar permasalahan yang menimbulkan kejahatan. Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh polisi dengan melakukan Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) yang merupakan operasi rutin yang harus ditingkatkan kuantitas maupun kualitasnya.

Sedangkan kasus kenakalan remaja di kota-kota besar semakin merebak. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah kasus tawuran antar pelajar serta semakin maraknya penggunaan narkoba dari kalangan remaja. Hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia yang dinilai mengalami perkembangan yang pesat dalam pembangunan menjadi kota yang dipadati oleh penduduk. Tempat-tempat hiburan pun ikut dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terutama para remaja yang haus akan hiburan. Diskotik, cafe menjadi ajang bagi para remaja untuk berkumpul bersama teman-temannya. Tempat-tempat seperti ini rawan terhadap peredaran narkoba sebab remaja yang ingin melepaskan pikiran yang frustasi bisa menggunakan narkoba supaya “fly” dan melupakan masalah yang dihadapi dalam waktu sejenak. Tawuran antar pelajar juga merupakan kasus yang mendapat perhatian khusus, khususnya tawuran antar siswa SMU yang sering terjadi di kota besar. Ironisnya para pelajar tersebut hanya ikut-ikutan teman tanpa tahu pasti penyebab mereka tawuran.
Tawuran pelajar yang masih terjadi hingga kini bukan lagi dianggap sebagai kenakalan remaja, namun sudah masuk dalam kategori kejahatan remaja.

Penanganan tawuran memang membutuhkan kerja sama semua pihak. Ketika anak keluar dari rumah untuk bersekolah, orangtua beranggapan sekolah bertanggung jawab terhadap anak. Sementara sekolah, ketika tawuran terjadi di jalan, sekolah beralasan itu bukan tanggung jawab mereka lagi. Dengan begitu, lantas siapa yang bertanggung jawab terhadap anak pada saat anak berada di luar sekolah. Apakah polisi yang bertanggungjawab? Memang kepolisian bertugas dan berperan melakukan pengamanan. Namun tanpa peran pihak lainnya, hal tersebut menjadi sulit. Pasalnya, jumlah polisi terbatas untuk mengawasi secara keseluruhan. Meski begitu, kepolisian mencoba untuk  mengambil tanggungjawab tersebut.
Apalagi aksi tawuran saat ini sudah merambat melalui provokasi di dunia maya. Provokasi tawuran yang merembet ke media sosial menjadi hal yang bukan lagi sepele. Dampak provokasi tawuran di media sosial pengaruhnya besar, karena dapat dilihat seantero dunia. Efeknya cukup dasyat.

Di sisi lain, bentuk-bentuk kenakalan remaja berupa tindak pidana dengan kekerasan yang pada beberapa tahun sebelumnya masih dapat ditolerir dan dianggap wajar ternyata telah berubah menjadi tindakan-tindakan kriminal yang sangat mengganggu dan meresahkan masyarakat. Imbasnya masyarakat menuntut agar tingkah laku pelajar tersebut harus dikenakan sanksi pidana secara tegas.  Mencermati fenomena yang terjadi di lingkungan anak-anak sekolah tersebut, maka kiranya perlu mendapatkan atensi secara khusus untuk dilakukan terobosan-terobosan baru guna menyelamatkan masa depan anak-anak pelajar sekolah ini.  Karena bagaimanapun mereka adalah aset-aset bangsa yang akan meneruskan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia dimasa mendatang.

Penanganan kenakalan remaja yang tidak tepat serta sikap keragu­raguan dari aparat penegak hukum dalam menangani kriminalitas yang dilakukan oleh pelajar sekolah, secara langsung maupun tidak langsung telah mendorong suatu penyimpangan sosial yang semakin jauh dari pelajar sekolah.  Oleh karena itu Polri sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat serta sebagai aparat penegak hukum dituntut untuk cepat tanggap dalam menyikapi fenomena tersebut. Polri harus mampu menunjukan profesionalismenya didalam mengatasi suatu problem yang sedang dihadapi masyarakat. Perlu disadari bahwa keberadaan petugas Polri akan sangat dirasakan oleh masyarakat apabila dalam pelaksanaan tugasnya dapat memberikan dampak positif untuk memenuhi keinginan masyarakat.  Dalam hal ini yang diinginkan oleh masyarakat yaitu agar Polri dapat memberikan rasa aman, masyarakat merasa terlindungi baik secara moril yaitu perasaan tenteram akan terjaminnya keselamatan jiwa individu baik di lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja, dan perjalanannya. (*)

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com