Tumbuhkan Cinta Lingkungan , RAR Sambang Mangrove Wonorejo PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Minggu, 10 April 2016 20:37

Surabayakita.com - Komunitas Peduli Surabaya 'Rek Ayo Rek (RAR) melakukan kegiatan Sambang Mangrove di Wonorejo, Minggu (10/4/2016) pagi. Kegiatan sosial bertujuan penyelamatan lingkungan tersebut dilakukan dengan menanam bibit mangrove dan memungut sampah plastik di area hutan mangrove.

Kegiatan peduli lingkungan ini juga diikuti oleh sejumlah anggota DPRD Surabaya seperti M. Machmud (komisi C), Sutadi, Dyah Katarina dan Laila Mufidah (komisi D) serta Ketua Kadin Surabaya Jamhadi.

Sejak pagi sekitar 100 orang anggota RAR sudah mulai berdatangan di Rumah Mangrove Wonorejo. Bibit tanaman mangrove sudah disediakan untuk diangkut perahu menuju lokasi penanaman. Tiga perahu yang membawa anggota RAR ini juga membawa serta karung karung untuk memunguti sampah di area hutan mangrove.

"Data dari Jasa Tirta menunjukkan setiap harinya sekitar 10 ton sampah rumah tangga dikirimkan melalui Kali Surabaya menuju laut. Dari jumlah sampah itu 60 persen diantaranya berupa plastik yang kemudian tersangkut di pintu masuk air menuju tambah tambah penduduk. Nanti tahun 2020 di Undang Undang yang baru, pabrik plastik diwajibkan menganggarkan dana untuk menarik sampah plastik itu lagi," ujar Wawan Some, pakar lingkungan RAR yang juga aktivis lingkungan dari Nol Sampah.

Sekitar 30 menit perjalanan naik perahu motor yang penuh sesak penumpang itu, rombongan sudah sampai di tempat penanaman mangrove di pinggir sungai. Rupanya kegiatan penyemalatan lingkungan seperti ini membuat anggota RAR merasa enjoy. Buktinya selama perjalanan naik perahu maupun saat penanaman bibit mangrove dan pembersihan sampah, gelak tawa dan canda anggota RAR senantiasa terus terdengar memecah kesunyian hutan mangrove Wonorejo pagi itu.

Untuk penanaman mangrove memang tidak memerlukan peralatan yang rumit sehingga semua anggota RAR tidak kesulitan melakukannya. Sebelum ditanam, permukaan tanah dilubangi dulu dengan kayu dan setelah itu mangrove ditanam. Mangrove ini akan tumbuh dengan sendirinya karena setiap hari air sungai meluap ke daratan ketika air laut pasang sehingga mangrove bisa tumbuh besar.Wawan Some yang perngelamanan puluhan tahun menanam mangrove nampak dengan telaten mengajari anggota RAR bagimana cara menanam mangrove yang baik.Selain RAR dan aktivis lingkungan hidup, kegiatan ini juga diikuti dua orang warga Jepang yang kebetulan melakukan kegiatan di Surabaya.

"Komunitas Rek Ayo Rek, RAR memotori dan berupaya agar wisata pungut sampah ini lebih di publik. Ini bisa dikatakan wisata, kerja bakti peduli lingkungan," kata Wawan Some.

Kepedulian masyarakat termasuk RAR ini dinilai Wawan Some sangat membantu dalam mencegah abrasi laut. Mangrove menjadi benteng yang perkasa menahan gelombang laut ke daratan. Selain itu buah pohon mangrove ternyata bisa dimanfaatkan untuk kolang kaling (nipah), sirup (bogem), tepung (lindur) dan pil KB (api api). Bila betul betul dimanfaatkan mangrove ini memiliki potensi mendatangkan sumber pendapatan bagi warga. Di Wonorejo sendiri terdapat 21 jenis mangrove dari 202 jenis di seluruh Indonesia.

Di sepanjang kanan kiri aliran sungai, pohon mangrove nampak rimbun menghijau. Untuk menjadikan mangrove tumbuh subur seperti itu dibutuhkan waktu puluhan tahun. Namun sayangnya banyaknya sampah yang menumpuk di pangkal batang mangrove merusak nikmatnya pemandangan mangrove nan hijau.

"Ini seiring pasang air laut, sampah masuk lagi ya. Sayang ya karena plastik ini menjadikan hutan mengrove menjadi kotor," tanya Jamhadi, Ketua Kadin Surabaya sambil memungut sampah yang ada di dekat kakinya.

Mantan staf ahli wali kota Surabaya saat dijabat Bambang DH ini menyebut perlunya membangun kesadaran bersama di kalangan warga untuk tidak membuang sampah di aliran sungai. Jamhadi juga berharap ada banyak pihak yang menikmati wisata pungut sampah dan tanam mangrove .

Anggota Komisi C DPRD Moch Machmud mengapresiasi kegiatan ini."Ini bisa diselaraskan dengan keberadaan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang memayungi hutan mangrove sebagai kawasan konservasi. Selama ini banyak pengusaha mendanai warga membuka tambak di tanah oloran kemudian mengurus sertifikat atas nama warga. Selanjutnya sertifikat dipegang pengusaha. Modusnya, seolah pengusaha beli dari warga, padahal tidak. Warga ini hanya suruhan," ujar mantan Ketua DPRD Surabaya ini dari Partai Demokrat ini.

Machmud juga menyoroti akses  jalan menuju kawasan konservasi mangrove yang rusak parah. Dirinya akan mengusulkan agar komisi C melakukan hearing dengan Dinas PU Bina Marga atau DCKTR soal jalan ini untuk menganggarkan pembangunannya agar tidak menyusahkan pengunjung.

Sedangkan Sutadi yakin mangrove ini akan makin banyak dikenal para wisatawan jika dikelola  dengan baik. Apalagi kalau kesadaran warga untuk menjaga lingkungan benar benar tumbuh. Sebab tanpa kepedulian masyarakat, pembangunan itu tidak efisien. "Peran serta masyarakat harus ditumbuhkan bahkan masyarakat sejak dini harus membiasakan diri untuk terlibat dalam pembangunan lingkungan," kata Sutadi dari Partai Gerindra yang mengajak cucunya ke tempat pembersihan sampah di Wonorejo.

Harapan serupa juga dikatakan Laila Mufidah anggota komisi D.Pemkot mestinya segera melakukan perbaikan terhadap fasilitas yang diperlukan wisatawan. Selain akses jalan juga dermaga untuk naik perahu. "Mudah mudahan Pemkot tanggap terhadap masalah ini. Kalau fasilitasnya seperti itu menunjukkan jika Pemkot belum menaruh perhatian terhadap mangrove ini," ujar politisi PKB ini.

Sedangkan Dyah Katarina anggota komisi D dari PDIP nampak antusias ikut membersihkan sampah plastik di sekitar lahan mangrove yang akan ditanami bibit baru. Karena saat itu laut sudah mulai pasang setinggi mata kaki, Dyah Katarina bersama anggota RAR lainnya harus rela berbecek ria. "Mangrove ini harus digarap serius Pemkot. Lha masak di sebelah situ ada perumahan kelas menengah ke atas, tapi di mangrove ini jalannya tidak dibangun. Ya njomplang kondisine," kata istri mantan walikota Bambang DH yang datang bersama Bram putranya ini.

Keberadaan hutan mangrove di Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya), sudah ada sejak zaman Belanda. Mulai ditata oleh Wali Kota Muhaji Wijaya dengan membuat master plan 2000. Saat wali kota dijabat Purnomo Kasidi dan era Sunarto Sumoprawiro, sempat tidak terurus. Kemudian era pemerintahan wali kota Bambang DH terbitlah Perda 3/2007.Perda tersebut mengubur kepemilikan tanah masyarakat. Ini karena pencanangan konservasi. Sebenarnya luasan hutan mangrove punya kemampuan untuk terus bertambah alami asal dijaga.

Pemerhati Maritim Surabaya Oki Lukito merinci, luas laut Surabaya 1.889 km2, panjang garis pantai 26,7 km, luas mangrove 1.180 hektare dan yang rusak sekitar 40% (400 hektare dengan nilai kerugian Rp16 miliar. "Di pesisir Surabaya ditampung limbah dari sedikitnya 105 perusahaan yang dibuang ke Kali Surabaya. Dalam limbah antara lain ada unsur logam berat seperti merkuri dan timah yang berbahaya bagi mahluk hidup," sebut Oki yang juga aktif di RAR.

Tingkat pencemaran merkuri di sejumlah sungai Surabaya sebesar 0,09 miligram per liter. Jumlah itu 90 kali lebih banyak dari ambang batas yang diizinkan untuk air minum. Hutan bakau juga menjadi tempat hidup nyaman bagi berbagai spesies burung dan hewan darat.

Di pesisir Surabaya, tercatat 147 jenis burung, 40 di antaranya migrant. Ada dari Siberia, Korea dan China sebagaimana cincin yang terpasang di kaki burung. Burung dari Wonorejo juga pernah ditemukan di Korea. "Benar-benar menjadi spot foto yang bagus di sini, kata Wiwik Hariyanto, anggota Stylus Photo yang saat itu hunting bersama penghobi foto bertema Save Our Nature. "Banyak teman-teman Stylus yang datang. Ada dari Kalimantan, Jakarta, Surabaya dan daerah lain di Jatim," sebut Wiwik, karyawan Pt Petrokimia Gresik ini.

Kei Wada, warga Edogawa Ku Matsue 5116, Tokyo, Jepang mengaku senang bisa menikmati wisata pungut sampah. Sepanjang perjalanan, dia memotret burung migrant dari atas perahu. Bens, sapaannya mengaku senang berada di Surabaya. Terlebih dia juga menjalankan usaha perikanannya di Surabaya. Selama di Kota Pahlawan, dia menetap  Apartemen Puncak Permai. Penuturan yang sama disampaikan Shiho Takehisa, asal Kota Kitakyushu Jepang. "Asyik juga wisata pungut sampah ini," kata Shiho yang membantu mengolah sampah organik menjadi granul atau butiran yang kini didistribusikan se Jatim.

Usai penanaman mangrove dan membersihkan sampah, anggota RAR menyempatkan diri menikmati kare kepiting tambak dan asem asem bandeng khas nelayan Wonorejo. Terik matahari yang menyengat seolah tak terasa lagi ketika anggota RAR menyeruput minuman es sirup dari buah mangrove. (SK1)

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com