Dibesarkan Dunia Pendidikan, Membebaskan Anak Memilih Masa Depannya PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Sabtu, 27 Agustus 2016 15:50

Surabayakita.com - Dibesarkan dari keluarga pendidik dan kini juga menekuni profesi mulia itu, bukan berarti Dr.Ir.Hj.Rr. Akas Yekti Pulihasih, MKes.MM, juga mewajibkan putra putrinya menekuni bidang yang sama. Istri Prof.Dr.Ir.H.Ismanto Hadi Santoso itu membebaskan mereka untuk tidak harus mengikuti jejaknya.

Buktinya dari ketiga putra putrinya saat ini, dua orang diantaranya tidak menjadi pengajar. Putra pertama Raditya Buyung Permata,ST kini bekerja di bidang mekanical enginering di Cilegon sedangkan putra kedua Raditya Bayu Sithala kini bekerja sebagai desaigner pada perusahaan percetakan. Sedangkan putra bungsu saat ini, Dr.Ristiya Galih Paramita masih menyelesaikan kuliahnya.

"Kami tidak pernah mengharuskan suatu profesi, akan tetapi semua yang dewasa harus bekerja baik laki laki  maupun perempuan. Bekerja tidak harus di bidang formal tetapi harus berpenghasilan," kata Akas Yekti saat berbincang dengan Surabayakita.com belum lama ini.

Perempuan ini mengawali pekerjaan dosen di Uniersitas Putra Bangsa Surabaya sejak 1988 hingga 2007 dan kini mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Kartini Surabaya serta STKIP PGRI Lamongan.

Terkait dunia pendidikan yang ditekuninya saat ini, Akas Yekti yang lahir di Banjarmasin tahun 1960 ini mengaku kalau keluarga besarnya sebagian besar memang menekuni bidang yang sama. Mulai guru PAUD, SD sampai guru besar. Bahkan STKIP PGRI Lamongan itu salah satu pendirinya adalah ayah dari Akas Yekti."Jadi guru adalah keturunan sekaligus hobi," ujarnya sambil tertawa.

Meski boleh dibilang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia pendidikan dan memiliki banyak kolega, nenek tiga cucu ini mengaku tidak ingin terlibat dalam organisasi politik. Bahkan dulu sempat aktif berkecimpung di organisasi politik, tapi apa yang dirasakannya ternyata tidak sama dengan keinginan nuraninya.

"Mengajar adalah kehidupan saya. Saya menganggap memotivasi orang untuk mempunyai suatu keahlian dan mempunyai manfaat adalah suatu kebahagiaan," ujar alumnus S1 Pertanian UPN Jatim, S2 Kesehatan Lingkungan Unair, S2 Narotama Ekonomi Universitas Narotama dan S3 Biologi Lingkungan Unair ini.

Mengajarkan ilmu bagi mahasiswa atau orang lain menurut Akas Yekti bagaikan menanam tanaman. Suatu saat tanaman itu akan berbunga atau berbuah dan manfaatnya bisa dirasakan baik diri sendiri ataupun orang lain.

"Menanam kebaikan sama fungsinya dengan menanam tanaman untuk kesejahteraan manusia. Namun baik menurut kita  belum tentu baik juga untuk orang lain. Kita hanya berusaha melakukan yang terbaik," kata perempuan yang memang sangat hobi  menanam di halaman pekarangan rumahnya tersebut.(son)





 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com