Usai Reses, Reni Astuti Sambangi Rumah Warga Tak Layak Huni PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Rabu, 31 Januari 2018 19:51

Surabayakita.com - Setelah lima hari menjalani tugas reses,  anggota komisi D DPRD Surabaya, Reni Astuti membawa setumpuk berkas berisi aspirasi masyarakat yang didatanginya. Aspirasi itu mulai keluhan air PDAM, genangan air hingga besarnya biaya pendidikan.


Usai mendengarkan aspirasi tersebut, Reni Astuti  mendatangi rumah salah satu warga bernama Triyono, 58, tinggal di RT 13/RW IX, Kelurahan Banyu Urip, Kecamatan Sawahan.

Triyono menyampaikan keluhan beratnya membayar biaya pendidikan anaknya yang bersekolah di SMP swasta. Bapak empat anak yang biasa ngamen  di sentra PKL Balongsari ini mengaku kesulitan membayar uang sekolah anaknya yang bungsu.

Karena penghasilan tidak tetap, si bungsu bahkan menunggak SPP di sekolahnya sampai beberapa kali. "Dulu saya musisi, pemain gitar di kafe di Putat (lokalisasi). Setelah lokalisasi tutup saya biasa mangkal di sentra PKL Balongsari saat Rabu malam saja, dan kadang di Korem. Dapat bantuan sound system," tutur Tri kepada  anggota Komisi D DPRD Surabaya, Reni Astuti, S.Si, Rabu (31/1/2018) di rumahnya.

Kepada wakil rakyat dari PKS ini, Tri berharap keluarganya mendapat bantuan dari Pemkot Surabaya untuk meringankan beban hidupnya. Paling tidak bantuan biaya pendidikan sekolah untuk anaknya.

"Saya asal Kecamatan Tarik Sidoarjo, dan di Banyu Urip Kidul ini sudah 17 tahun. Sudah lama saya ber-KTP Surabaya. Saya ingin bu Reni bisa menjembatani ke Pemkot bagaimana cara mendapat bantuan," sambungnya.

Selain melihat dari dekat kehidupan Triyono, Reni juga mendatangi rumah suami istri Juhari  dan Siti Aisyah, di RT 11/RW IX, Kelurahan Banyu Urip, Kecamatan Sawahan. Di tempat ini Reni Astuti mendapati keluarga dengan empat anak ini tinggal di rumah tak layak huni.

Juhari yang kesehariannya kerja sebagai kuli bangunan tidak bisa berbuat banyak. Pendapatannya dari bekerja hanya pas buat makan. "Saya asli Banyu Urip sini. Ini rumah warisan orangtua. Dulu tanahnya lumayan lebar, terus dipetak, dibagi dengan saudara-saudara," kata Mbak As, sapaan Siti Aisyah.

As mengaku saat hujan terkadang hanya anak bungsunya yang tidur dalam rumah berikuran panjang sekitar 4 meter dan panjang sekitar 2,5 meter itu. Bangunan yang terbuat dari triplek, dan sebagian atap menggunakan bekas baliho terkadang bocor.

"Kalau hujan deras hanya anak saya yang kecil tidur di dalam. Lainnya di luar," kata As, lagi.

Reni Astuti menegaskan bahwa kedatangannya ke rumah Tri terkait kesulitannya membayar biaya sekolah, serta rumah As sehubungan hunian tak layak merupakan tindaklanjut reses.

"Saya reses Senin (29/1) dan menerima informasi pengurus kampung. Karena itu saya hari ini saya datang dengan melihat langsung. Rumah bu As sudah sangat layak dibantu dengan program perbaikan rumah tidak layak huni dinas sosial, saya berharap pihak kelurahan sudah mengetahui  kondisi ini untuk selamjutnya diusulkan ke dinas sosial, jika tidak patut disesalkan,” kata Reni.

Reni Astuti sudah berkomunikasi dengan Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan terkait masalah ini. "Saya akan coba komunikasi dengan pihak sekolah. Termasuk dengan pemerintah kota, dalam hal ini Dinas Pendidikan  yang mengurusi bantuan  bagi siswa dari keluarga pra sejahtera namun memiliki semangat menempuh pendidikan," tandasnya.

Pemkot, kata Reni, mengalokasikan anggaran pendidikan berupa BOPDA untuk sekolah swasta, harapannya sekolah bisa membantu siswa dari keluarga tidak mampu .(SK1)

 

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com