Reni Astuti Mendorong 'Dolanan' Anak Digalakkan di Kampung dan Sekolah PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Sabtu, 03 Maret 2018 09:18

Surabayakita.com - Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Reni Astuti, S.Si, mendorong digalakkannya lagi 'dolanan' anak anak yang kini sudah semakin tergerus keberadaan gadget. Sebab permainan anak anak itu sangat penting untuk menstimulus perkembangan fisik dan mental.


Hal ini disampaikan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu saat mampir di arena Festival Dolanan Anak  bertajuk 'Hinggil Batik Fest 2018' di Grand City Convex Surabaya, Jumat (2/3/2018).

Setelah sempat menghampiri tiap stand pameran batik tulis khas daerah se nusantara, Reni menyaksikan permainan tradisional yang dimainkan anggota Karang Taruna Surabaya dan pengunjung. Ada tarik tambang, eggrang batok, tek ko tek, dan lainnya.

Reni sempat didaulat panitia untuk memainkan tek ko tek yang bisa disebut merupakan permainan zaman old itu. Alat permainan ini berupa bola plastik padat dan keras berdiameter sekitar 10 cm.

Masing-masing diikat tali yang bagian ujungnya bertemu pada satu cincin (ring) yang juga plastik. Apabila digerakkan, kedua bola plastik itu akan benturan dan menghasilkan bunyi tek ko tek.

"Dulu kalau bermain ini tidak boleh dekat kaca. Kaca jendela maupun kaca meja," kata Reni, sambil menerawang mengenang masa kecilnya. Maklum pada zaman itu memang belum ada PS, gadget atau permainan berbasis teknologi canggih lainnya.

Bagi wakil ketua Fraksi PKS ini, memainkan dan melihat permainan tradisional itu membawanya berwisata memori. Dia teringat ketika kecil pernah memainkannya.  Hampir semua macam permainan tradisional saat itu dimainkan.  "Main layang-layang sampai sekarang saya masih bisa" kata Reni sambil tersenyum.

"Disamping lengkap menstimulus aspek kognitif, psikomotorik dan afektif,  permainan tradisional itu penuh dengan filosofi. Permainan tradisional mengedepankan sportivitas, semua yang  bermain ikut mengawasi, ada aturan bersama yang disepakati, juga ada musyawarah untuk mufakat. Selain itu dulunya permainan tradisional ada yang menjadi alat komunikasi. Saya pernah membaca tulisan tentang permainan tradisional berupa layang-layang," katanya.

Layang-layang zaman dulu bahkan tidak sekedar jenis permainan tapi bisa jadi alat komunikasi. Yang biasa adalah para tilik sandi atau intelejen. Hasil pantauan dilaporkan melalui layang-layang yang diterbangkan.

Terkait keterlibatan Karang Taruna Surabaya dalam kegiatan ini, Reni sangat mendukungnya. Apalagi jika secara periodik Karang Taruna akan menggelar kegiatan 'dolanan' anak anak ini dari kampung ke kampung dan sekolah. "Itu akan sangat baik bagi anak anak karena tidak harus memainkan permainan zaman now saja," ujarnya. (SK1)




 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com