Panen Udang Anjlok 1,5 Ton Menjadi 10 KG, Pemilik Tambak Sukolilo Tolak Konservasi PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Senin, 09 April 2018 18:27

Surabayakita.com - Warga pemilik tambak di Surabaya Timur yang tergabung dalam Forum Komunikasi Warga  Korban Konservasi Pamurbaya (FWK3P) diminta untuk memilih satu di antara dua opsi yang ditawarkan melalui hearing di Komisi A DPRD Surabaya, Senin (9/4/2018). Hal ini terkait dengan penolakan pemilik tambak terhadap perda konservasi pantai Surabaya Timur ( pamurbaya).


Hadir beberapa SKPD Pemkot Surabaya dalam hearing ini. Hearing digelar karena sebelumnya para pemilik tambak melakukan aksi demo di depan DPRD Surabaya. Mereka menolak pemberlakuan perda konservasi karena membuat nasib para pemilik tambak menderita.

Dalam hearing itu antara warga dengan Pemkot Surabaya saling mempertahankan argumennya. Warga menolak konservasi sedangkan Pemkot Surabaya tetap satu kata, konservasi tetap dilanjutkan.

Ketua Komisi A, Herlina Njoto, menyatakan persoalan lahan konservasi  tak akan menuai hasil jika kedua belah pihak tetap bertahan pada argumennya. Untuk itu, pihaknya menawarkan dua opsi yaitu petani menggarap tambaknya dengan dibantu dinas pertanian untuk meningkatkan hasil. Opsi yang kedua adalah tambak itu dijual ke pemkot secara bertahap.

“Jika ada keputusan terkait dua opsi itu, maka petani tambak silahkan mengirim surat ke komisi A. Di luar opsi tersebut, kami tak ikut bertanggungjawab,” ujar politisi Partai Demokrat ini.

Usai hearing, warga pemilik tambak tetap ngotot tak mau ada konservasi. Puluhan warga itu langsung membentangkan poster di depan pintu masuk utama DPRD Surabaya.

Abdul Kodim salah satu petambak mengatakan sejak ada konservasi ini semua pemilik tambak merugi. Sebab mereka tak bisa leluasa mengurus tambaknya hingga hasil panen menurun drastis.

"Keluarga saya punya 10,5 hektar tambak tinggalan bapak saya Musran sejak 1961. Kalau dulu setiap panen dapat 1,5 ton windu dan 2 ton bandeng, kini turun drastis menjadi 10 kilogram windu dan kurang dari 2 kwintal bandeng. Karenanya kami minta konservasi itu dicabut," kata warga RT 1 RW 2 Keputih Sukolilo ini.

Sebagai ungkapan kekecewaan, warga pemilik tambak membaca puisi soal konservasi yang menyindir Pemkot dan pengembang di Surabaya Timur. Puisi itu dibuat koordinator FWK3P Choirul Anam.

“Lahan milik petani tak bisa diuruk untuk dipakai pemukiman. Namun, tanah milik pengembang boleh diuruk untuk jadi perumahan. Ini bentuk ketidakadilan sehingga kami menolak konservasi,” tegasnya.(SK1)

 

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com