Festival Rujak Uleg, Tim Srikandi Tampil Bertema Cinta Indonesia PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Sabtu, 12 Mei 2018 07:04

Surabayakita.com - 275 grup yang menjadi peserta Festival Rujak Uleg 2018 untuk memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) sudah sejak seminggu ini intens menyiapkan diri untuk bisa tampil optimal di ajang tahunan itu. Salah satunya Tim Srikandi yang dipersiapkan Dinas Kebakaran Kota Surabaya.

Sudah seminggu ini setiap sore hari pasca jam kerja terdengar alunan suara vokal perempuan dari aula kantor Dinas Kebakaran kawasan Jalan Pasar Turi No. 21 Surabaya. Sayup sayup terdengar lagu Anging Mamiri, lagu khas Bugis dari Sulawesi Selatan.

Tim Srikandi sedang rutin latihan menyanyikan lagu daerah itu. Bukan tanpa sebab mereka harus berlatih keras menghafalkan not lagu dengan cengkoknya yang khas itu. Sebab lima orang ini akan menampilkan lagu itu untuk mengiringi 'aksi nguleg' rujak pada Minggu (13/5/2018) di Jl. Kembang Jepun.

Selama latihan, Chandra Oratmangun sang komandan Dinas Kebakaran Surabaya melihat dan membetulkan cengkok yang dirasa kurang pas. Perempuan ini memang cukup familiar dengan lagu itu karena memang berasal dari Ujungpandang.

"Lagu ini untuk mengiringi Tim Srikandi saat nguleg rujak. Semula memang cengkoknya agak susah. Tapi setelah belajar sambil melihat youtube akhirnya Tim Srikandi bisa menyanyikan lagu itu berikut cengkoknya," kata Chandra Oratmangun ketika ditemui Surabayakita.com.

Untungnya selama latihan rutin berlangsung tidak ada kejadian kebakaran besar di Surabaya. Ada kebakaran tapi skalanya kecil hanya rumput alang alang yang terbakar sehingga Tim Srikandi tetap bisa menjalani latihan rutin jelang Festival Rujak Uleg ini.

Selain lagu Anging Mamiri, Tim Srikandi tahun ini akan menampilkan kostum bertema Bhineka Tunggal Ika. Karenanya dipilih kostum Baju Bodo yang juga berasal dari Sulawesi Selatan.

Untuk menyiapkan kostum ini, ternyata Tim Srikandi juga harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Untuk mendesain dan membuat sendiri Baju Koko dirasa tidak mungkin karena waktu terbatas. Karenanya Tim Srikandi lantas hunting ke tempat tempat persewaan baju.

"Meski sewa jangan dikira mudah mendapatkannya. Karena di saat yang sama grup lainnya juga banyak yang menginginkannya. Kami sampai muter muter Surabaya mencari tempat persewaan baju yang menyediakan Baju Koko. Akhirnya ketemu juga," ujar Chandra Oratmangun.

Awalnya Tim Srikandi mencari di tempat persewaan baju di kawasan Ngagel dan Mulyorejo tapi tidak ada koleksi baju itu. Setelah mencari lagi akhirnya ketemu di kawasan Wonocolo.

Setelah kostumnya ketemu, tim kreatif Dinas Kebakaran menambahkan beberapa aksesoris agar Baju Bodo yang dipakai Tim Srikandi ini lebih cantik dan heboh. Saat sesi fashion show juga ditambahkan selendang dan kipas.

Sedangkan untuk penyajian rujak ulegnya, Tim Srikandi akan menggunakan tampan berbentuk perahu phinisi. Sudah disiapkan petugas pria yang akan membawa tampan phinisi itu

Tim Srkandi sendiri rutin tampil di Festival Rujak Uleg. Sebelumnya mereka tampil dengan kostum Holland, India dan Putri Angsa. "Tapi kali ini kami putuskan back to nature. Karena kami cinta Indonesia. Yang bikin saya puas adalah prosesnya. Lewat rujak uleg, satu lagi kami mengenali dan memahami budaya Indonesia," ujar Chandra Oratmangun bangga.(SK1)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com