Armuji Terkenang Tradisi Lebaran Unjung Unjung PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Senin, 11 Juni 2018 08:53

Surabayakita.com - Tradisi lebaran dengan mendatangi satu persatu rumah warga di kampung untuk bersalaman dan meminta maaf atau biasa disebut unjung unjung kini sudah mulai pudar, terutama di kalangan anak muda. Padahal unjung unjung merupakan media yang baik untuk bersosialisasi.

Kecuali dengan keluarga besar atau famili dekat, bermaaf maafan dengan mengunjungi keluarga yang statusnya lebih dituakan tetap masih berlangsung hingga saat ini. Namun unjung unjung yang dilakukan anak anak kecil usia SD-SMP secara berkelompok seperti dulu sudah luntur.

Dulu tradisi unjung unjung ini menjadi kesempatan yang tak boleh dilewatkan di kalangan anak anak atau remaja. Biasanya mereka melakukan unjung unjung tidak sendirian tetapi berkelompok.

Setiap kelompok  terdiri atas 5-10 anak dengan usia sebaya. Biasanya mereka janjian untuk menentukan tempat dimulainya unjung unjung sampai selesai.

Mereka mendatangi rumah rumah warga dan menemui pemilik rumah untuk bersalaman meminta maaf. Selain bisa mencicipi kue yang disuguhkan di meja tamu, tak jarang mereka juga dapat 'uang sangu' dari pemilik rumah. Ini yang dulu selalu dinanti nanti saat lebaran tiba di kalangan anak anak. Menyenangkan.

"Itu yang tak dijumpai di zaman sekarang. Padahal tradisi unjung unjung itu bagus untuk pendidikan anak anak bersosialisasi dengan warga se kampung. Tapi sekarang budaya itu sudah mulai lenyap," ujar Armuji Ketua DPRD Surabaya, sambil menerawang mengenang masa kecilnya di kampung Ngagel Madya Surabaya, Minggu (10/6/2018).

Saat lebaran tiba menurut Armuji, merupakan saat yang ditunggu anak anak untuk melakukan unjung unjung. Pria yang kini duduk sebagai Ketua DPRD Surabaya ini terkenang dengan aktivitas unjung unjung ini saat di bangku SD hingga SMP.

Kini tradisi itu di Surabaya sudah tergerus, mungkin masih ada tapi sudah tidak seperti dulu. Menurut Armuji, saat ini anak anak sudah tidak tertarik melakukan unjung unjung seperti dulu karena zamannya sudah beda.

"Zamannya sudah beda. Anak anak SD atau SMP sekarang lebih suka bermain game online di gadget mereka. Tiap hari mereka sibuk dengan gadget, bahkan ke mana mana selalu dibawa. Akhirnya waktu bersosialisasi dengan tetangga menjadi kurang, tidak seperti dulu," ujar Armuji.

Padahal menurut Armuji, tradisi unjung unjung itu sudah menjadi warisan tradisi sejak lama turun temurun di Surabaya. Tradisi ini juga mengajarkan anak anak untuk senantiasa menghormati orang yang lebih tua dan meminta maaf dengan kesalahan yang mungkin telah diperbuat.

Di era yang lebih modern sekarang ini memang orang lebih memilih praktis. Mungkin karena kesibukan. Untuk menyampaikan permintaan maaf atau selamat Idul Fitri, sebagian orang menganggap sudah tidak perlu bertemu langsung. Mereka lebih memilih cara praktis efisien dengan mengirim ucapan melalui messenger, whatsapp atau line.(SK1)




 

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com