Buprenorfin Banyak Disalahgunakan PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Senin, 24 Mei 2010 07:41

Penggunaan buprenorfin sebagai obat untuk pecandu narkoba efektif menekan angka pengguna narkotika dan penyebaran penyakit HIV/AIDS. Namun obat jenis ini kerap kali disalahgunakan oleh pasien yang mengambil terapi ini.

Tim Medis Poli Metadon RSUD dr Soetomo, Prof dr Hendy M SpKJ  mengatakan obat jenis buprenorfin seringkali disalahgunakan dengan disuntikkan pada tubuh pasien. Padahal, obat yang berbentuk kablet ini merupakan obat yang ditelan dengan diletakkan di bawah lidah. Bila disuntikkan maka bisa berdampak buruk pada pasien.

"Bila disuntikkan akibatnya mulai dari tersumbatnya pembuluh darah hingga kematian karena pernafasan yang terhenti," katanya.

Banyaknya potensi penyalahgunaan itu karena pasien merasa lebih nyaman bila obat yang termasuk narkotika golongan 3 itu disuntikkan. Sehingga pasien banyak yang mengakali petugas kesehatan atau dokter dengan pura-pura meletakkan di bawah lidah.

Bahaya lain bila obat tersebut dimasukkan ke dalam tubuh melalui jarum suntik adalah penularan penyakit HIV/AIDS. Hal ini berbeda dengan tujuan pemerintah yang menginginkan agar terapi ini mampu mengurangi pengguna narkoba dan menekan angka HIV/AIDS.

Oleh karena itu, Hendy mengharapkan agar masyarakat sekitar juga ikut mengawasi penyalahgunaan obat ini. Melalui pengawasan tersebut, obat terapi ini bisa digunakan sesuai dengan aturan medis.

"Kita harus bekerjasama untuk menekan penyalahgunaan obat ini. Obat terapi ini mempunyai dampak yang cukup besar untuk kesehatan pengguna narkoba," tambahnya.

Siapkan Empat Layanan Buprenorfin

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya hanya mampu menyiapkan empat layanan kesehatan buprenorfin yang merupakan substitusi untuk mengurangi kecanduan terhadap narkoba. "Di Surabaya, estimasi kami ada 2.000-4.000 pelaku penyalahgunaan narkoba dengan 50 persen di antaranya berpotensi HIV, tapi kemampuan kami terbatas," kata Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Masyarakat Dinkes Surabaya, dr Ina Aniati.

Selain itu, pihaknya menyadari jumlah dokter dan jumlah pasien narkoba yang perlu layanan buprenorfin tidak seimbang, namun kami hanya mampu melayani mereka pada RSUD dr Soetomo, RSJ Menur, Puskesmas Jagir, dan Puskesmas Manukan Kulon," katanya.

Menurut dia, sebenarnya menyiapkan enam puskesmas, namun pihaknya mengalami keterbatasan dokter dan anggaran untuk pengadaan buprenorfin, karena itu empat puskesmas rintisan itu hanya melayani jarum suntik steril bagi pengguna narkoba.

"Paling tidak, penggunaan jarum suntik steril yang tidak digunakan lebih dari satu pengguna narkoba akan mengurangi potensi HIV/AIDS, namun kami akan berupaya meningkatkan rumah sakit atau puskesmas yang melayani buprenorfin," katanya.

Masalahnya, kata Ina, pengguna buprenorfin juga banyak yang menyalahgunakan sarana substitusi narkoba itu dengan cara disuntikkan, padahal penggunaan buprenorfin itu bilingual atau diletakkan di bawah lidah hingga larut dalam 3-5 menit.

"Kalau disuntikkan justru akan mengandung dua risiko, yakni potensi HIV/AIDS dan buprenorfin yang disuntikkan dalam kondisi partikel akan menyebabkan penyumbatan darah, sehingga pengguna narkoba mengalami stroke, lumpuh, dan sejenisnya," katanya.

Karena itu, para pengguna buprenorfin hendaknya menjalani perawatan pada dokter yang bersertifikat untuk menerima pengobatan serta pendampingan psikososial.(red)

 
Copyright © 2018. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com