Maksimalkan Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja PDF Print E-mail
Ditulis oleh Redaksi Surabayakita   
Sabtu, 27 September 2014 22:00

Surabayakita.com – Peradaban boleh berkembang sangat pesat. Kran informasi digital boleh terbuka tanpa batas. Keterbukaan dan kebebasan boleh menjadi gaya hidup masa kini. Terpenting  semua informasi yang deras mengalir tersebut harusnya dapat diserap dengan benar.

Namun saat ini masih banyak remaja yang belum memahami dan mengerti secara mendalam tentang Kesehatan Reproduksi Remaja, sehingga sering terjadi permasalahan remaja yang berkaitan dengan soal seks, seperti aborsi, penyakit menular seksual (PMS), perilaku seksual yang menyimpang bahkan tidak sedikit terjadi kehamilan di luar nikah.

Menurut WHO kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya. Dalam memberikan pendidikan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi pada remaja, dibutuhkan peran dari berbagai pihak agar remaja tidak mendapatkan informasi dari sumber yang salah yang akhirnya akan terimplementasi dengan cara yang salah pula.

“Selama ini, orang tua lebih mempercayakan hak atas pendidikan anaknya pada pihak sekolah. Termasuk pendidikan tentang kesehatan reproduksi. Itu memang tidak salah. Sekolah harus berperan, tapi yang lebih penting lagi adalah orang tua, yang seharusnya menjadi sumber pertama dan utama,” demikian kata Iffah Udiana, Project Officer  Improving Contraceptive Method Mix (ICMM) pada Surabayakita.com.

Menurut Iffah Udiana, apabila orang tua tidak menjadi sumber informasi yang bersahabat bagi remaja, maka remaja akan cenderung mencari tahu lewat sumber-sumber informasi seksual yang menyesatkan seperti film-film porno, majalah, komik atau ke teman-temannya yang notabene sama-sama tidak tahu, sama-sama penasaran dan sama-sama belum tentu dapat memahami dengan benar.

“Kita sebagai orang tua harus tahu, remaja itu mendapat informasi tentang seks sebagai sesuatu yang (bisa jadi) menyenangkan, tidak berbahaya, dewasa dan terlarang. Remaja usia 13 tahun hingga 21 tahun ingin mencoba sesuatu yang baru dan tidak berpikir panjang untuk mengambil resiko. Padahal resiko kehamilan pra nikah berimplikasi panjang pada kesehatan jiwa dan raga anak remaja,” imbuh Iffah.

Iffah juga berpesan pada orang tua untuk tidak lagi memandang tabu dan tidak membatasi perbincangan mengenai kesehatan reproduksi ini. Orang tua harus siap memberikan pendidikan kesehatan reproduksi ini kepada anak-anaknya, tidak perlu menunggu anak bertanya tapi ortu harus pro aktif memberi informasi.

Berikut tips bagaimana menjaga anak remaja untuk tidak salah langkah menyikapi reproduksi.

*     Mulai Sejak Dini
Pendidikan kesehatan reproduksi idealnya di berikan sejak anak mulai sadar akan perbedaan jenis kelamin, sadar tentang mereka perempuan atau laki-laki dengan organ reproduksi yang berbeda. Pada saat itulah orang tua harus memahamkan tentang identitas gender mereka yang disertai dengan nilai-nilai kesehatan, sosial, moral dan agama. Anak harus diberi pengertian tentang bagian-bagian dari tubuhnya yang harus dilindungi dan tak boleh disentuh oleh siapapun.

*    Ortu Sahabat Remaja
Materi dan cara penyampaian pendidikan kesehatan reproduksi harus disesuaikan dengan usia anak. Pada remaja yang notabene sedang berada di masa atau fase transisi dari anak-anak ke dewasa, orang tua perlu mensejajarkan diri dengan mereka, dan memposisikan peran sebagai sahabat atau teman sebaya. Sebagai contoh saat anak berusia 12-13 tahun, orang tua dapat memperkenalkan topik tentang menstruasi, dan pada saat itu, barulah dia mampu melihat hubungannya. Jika ia perempuan, ajarkan juga apa saja yang harus dia lakukan ketika menstruasi di tinjau dari sisi kesehatan.

*    Jalin Kerjasama Dengan Sekolah
Usahakan untuk selalu berkomunikasi dengan guru yang mengajar anak-anak, dan beritahu guru tersebut bukan hanya permasalahan kenakalan, tetapi juga hal-hal baik yang telah dia ajarkan kepada anak-anak. Partisipasi teratur dalam organisasi maupun kegiatan sekolah memberikan orang tua kesempatan untuk menyuarakan pandangan selaku orang tua tentang apa yang terjadi dalam sistem sekolah yang mempengaruhi anak-anak. Sampaikan masukan-masukan positif pada sekolah untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi pada siswa secara berkala dalam suasana yang tidak kaku.

*    Orang Tua Sumber Utama Pendidikan Kesehatan Reproduksi
Tidak gampang memang, bagi orang tua berbicara seks pada remaja dengan posisi sebagai sumber utama informasi. Orang tua harus siap dan terbuka terhadap pertanyaan remaja tentang seks. Jangan hanya memberikan buku untuk dibaca anak. Tapi orang tua bisa mengarahkan remaja kepada orang yang tepat jika orangtua merasa tidak nyaman untuk menjawab pertanyaan anak remajanya seputar seks. (Endah)

 
Copyright © 2017. surabayakita.com | surabaya news portal. Designed by JasaWebsite.com